Tuesday, September 15, 2009

Adab Besafar / Berpergian Jauh

Selasa, 25 Ramadhan 1430H - 1. Doa-doa ketika bersafar .Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah senantiasa membiasakan berdoa dan berdzikir. Musafir mengucapkannya dimulai sejak meletakkan kakinya di kendaraannya sampai ia kembali ke tempat semula. Di antara doa-doanya adalah:
Doa ketika naik kendaraan .“Aku menyaksikan Ali -Radhiallahu ‘anhu-saat didatangkan unta kepadanya sampai ia menaikinya. Ketika ia meletakkan kakinya di ontanya ia berdoa: “ Dengan menyebut nama Allah.” Kemudian membaca doa: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnyalah kepada Rabb kami, kami akan kembali ” (Az-Zukhruf: 13-14).
Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji hanya bagi Allah “.Sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengucapkan: “Allah Maha Besar.” Sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mengucapkan: “Maha Suci Engkau Ya Allah, sesungguhnya aku telah berbuat zhalim terhadap diriku, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”.
Kemudian beliau tertawa, maka ditanyakan kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan anda tertawa?
Ali berkata: “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berbuat demikian sebagaimana aku lakukan, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa”. Lalu saya bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang menyebabkan anda tertawa? “
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Rabbmu takjub dengan hamba-Nya jika ia berdoa memohon ampun kepada-Ku dari dosa-dosanya, sementara ia mengetahui bahwa tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain diri-Ku’.”
Doa ketika berangkat dan pulang dari safar .Ibnu Umar -Radhiallahu ‘anhuma- meriwayatkan , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika telah di atas onta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi safar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir sebanyak tiga kali. kemudian berdoa: “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnyalah kepada Rabb kami, kami akan kembali ” ( QS. Az-Zukhruf: 13-14)
Ya Allah, sungguh kami memohon kepada Engkau dalam safar ini kebaikan dan ketaqwaan, dan amalan-amalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, berilah kemudahan bagi kami dalam safar kami ini, dekatkanlah jaraknya bagi kami sesudahnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan dalam safarku dan pemandangan yang menyedihkan, dan dari kembalian yang buruk pada harta dan keluargaku
Dan apabila beliau kembali dari safar beliau mengucapkan kembali doa tersebut dan menambahkannya dengan ucapan: “ Sebagai orang-orang yang kembali, bertaubat dan beribadah, lalu kepada Rabb kami, kami memuji”. Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata: “ Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan kafilah untuk pergi berperang, atau berhaji atau umrah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir sebanyak tiga kali pada setiap melewati jalan yang menaik, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:
“Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi dengan benar selalin Allah. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah yang memiliki kekuasaan dan bagi-Nyalah, segala pujian hanya bagi-Nya dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Aku bertaubat dengan sepenuh taubat, aku termasuk orang-orang yang beribadah dan sujud kepada-Nya dan hanya kepada Rabb kami mereka memuji. Maha benar Allah dengan segala janjinya, yang senantiasa menolong hamba-hamba-Nya dan Dia-lah satu-satunya yang akan mengalahkan musuh-musuhnya.”
Dzikir ketika berada di atas bukit, lereng dan lembah
Dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma yang telah lewat- bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada akhir haditsnya: “Apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama tentara-tentara beliau berada di atas bukit mereka bertakbir dan jika mereka sedang menuruni lereng mereka bertasbih. Maka akupun mengucapkan doa seperti itu.”
Doa ketika mendekati suatu daerah atau selainnya
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah-: “ Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekati suatu daerah dan beliau ingin memasukinya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:
Ya Allah Rabb tujuh lapis langit dan setiap yang dinaunginya, Rabb tujuh lapis bumi dan setiap yang memnghuninya, Rabb Syaithan-syaithan dan setiap yang tersesat karena
godaannya dan Rabb angin dan semua yang ditaburkan olehnya. Aku memohon kepada Engkau kebaikan dari desa ini dan kebaikan penduduknya dan aku berlindung kepada Engkau
dari kejelekan dan kejelekan penduduknya dan seluruh kejelekan yang muncul darinya.”

Dzikir-dzikir yang disunnahkan bagi musafir yang berangkatnya pada waktu shubuh.
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bepergian pada waktu shubuh beliau berdoa: “ Sesungguhnya setiap yang mendengar telah
mendengar pujian Allah dan cobaan yang baik yang diberikan kepada kami. Wahai Rabb kami, sertailah kami dan berilah keutamaan bagi kami. Kami berlindung kepada Allah dari api
neraka “
Faedah: Sepantasnya bagi musafir untuk memanfaatkan setiap safarnya dan berdoa untuk dirinya, bapaknya serta keluarganya dan bagi orang yang dicintainya. Dan untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa. Dan untuk memilih mana doa yang mencakup semuanya, disertai dengan suara lirih berharap serta menundukkan hati disaat berdoa. Dikarenakan doa seorang musafir adalah doa yang akan terkabulkan, maka tidak sepantasnya meremehkan doa tersebut. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallampernah bersabda: “Tiga jenis doa yang yang mustajab (dikabulkan) tanpa diragukan lagi, yaitu: doa orang tua kepada anaknya, doa seorang musafir, dan doa orang yang sedang dizhalimi.”

Shalat sunnah dalam safar
Termasuk sunnah yang telah banyak ditinggalkan adalah shalat sunnah bagi musafir di atas kendaraannya. Sangat sedikit orang yang dapat anda lihat mengerjakan shalat sunnah atau shalat witir di atas pesawat atau sarana safar lainnya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melakukan hal itu pada setiap safar beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tanpa harus sesuai memperhatikan arah kiblat dalam melaksanakan shalat sunnah bagi musafir jika memang ia merasa kesulitan menentukan arah kiblatnya, yang utama adalah menghadap kiblat adalah ketika ia sedang berihram.
Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, beliau berkata: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat diatas tunggangan beliau ketika dalam safar dimana beliau mengarahkan tunggangannya kearah kiblat dan shalat dengan memberi isyarat. Beliau mengerjakannya hanya pada shalat al-lail tidak pada shalat fardhu dan beliau mengerjakan shalat witir di atas kendaraan beliau.”
Berdasarkan hadits inilah, disunnahkan bagi musafir untuk shalat sunnah dan witir di atas kendaraannya dalam safarnya sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Masalah: Apakah boleh bagi musafir untuk shalat fardhu di atas pesawat terbang, mobil atau kereta api apabila dalam keadaan darurat ? Ataukah mengakhirkannya hingga dia sampai di tempat yang memungkinkan baginya untuk mengerjakan? Dan haruskah ia menghadap kiblat?
Jawab: Pertanyaan serupa telah dijawab oleh Lajnah Da`imah dengan jawaban sebagai berikut:
“ Jika pengendara mobil, kereta api, pesawat terbang atau ia menaiki binatang kaki empat, dia merasa khawatir pada dirinyasekiranya dia turun dan mengerjakan shalat fardhu sementara dia mengetahui jikalau dia mengakhirkannya pada tempat yang memungkinkan dia mengerjakan shalat maka dia akan terlewatkan waktu shalat. Maka dia seharusnya mengerjakan shalat sesuai dengan kemampuannya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:
“Tidaklah Allah akan membebani seorang hamba kecuali sebatas kemampuannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)
Dan Firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:
Dan bertaqwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian.” ( QS. At-Taghabun: 16)
Juga firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:
Dan tidaklah Allah menjadikan kesusahan bagi kalian dalam – mengerjakan – agama ( QS. Al-Hajj: 78)
Adapun shalatnya dia menghadap kearah mana kendaran-kendaraant ersebut mengarah ataukah seharusnya menghadap kearah kiblat selalu dan seterusnya ataukah diawal mula saja, hal ini kembali kepada yang memungkinkan baginya. Apabila dia memungkinkan untuk menghadap kearah kiblat diselurh pengerjaan shalatnya maka dia wajib untuk melakukan hal itu. Dikarenakan menghadap kearah kiblat adalah syarat shahihnya shalat wajib baik dalam keadaan safar atau mukim. Dan apabila tidak memungkinkan baginya menghadap kearah kiblat pada seluruh pengerjaan shalatnya, maka hendaknya dia takut kepada Allah semampu dia, sesuadi dengan dalil-dalil yang telah dikemukakan sebelumnya.
Doa ketika singgah di suatu tempat
Seorang musafir akan membutuhkan untuk turun singgah di suatu tempat ketika hendak tidur, istirahat, makan atau menunaikan hajat, sedangkan di tempat tersebut mungkin saja terdapat hewan-hewan berbisa, hewan buas dan para syaithan yang hanya Allah subhanahu wa ta`ala yang mengetahui. Maka termasuk nikmat Allah Subhanahu wa Ta`ala atas kita pensyariatan Allah bagi kita melalui lisan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa doa-doa yang apabila kita ucapkan niscaya Allah akan menjaga kita –dengan izin Allah Subhanahu wa Ta`ala- dari setiap kejelekan makhluk yang ada.
Dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian dia berdoa: “ Aku berlindung kepada dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan makhluk yang Engkau ciptakan. Tidak akan ada sesuatupun yang dapat memudharatkan sampai ia berlalu dari tempat tersebut.”
Dari hadits di atas dapat diambil beberapa faedah, di antaranya:
Doa di atas diucapkan ketika ia melintasi semua tempat ataukah singgah dan turun ditempat tersebut. Hadits diatas tidak berlaku khusus di saat seorang musafir turun dari kendaraannya saja.
Bahwa dari kalam Allah tabaaraka ismuhu, adalah salah satu dari sekian sifat-sifat Allah dan bukanlah makhluk.Karena mustahil beliau meminta perlindungan kepada makhluk. Ini merupakan salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr –Rahimahullah- Bahwa seorang yang berdoa dengan doa ini ketika ia singgah di suatu tempat ia akan dijaga dengan penjagaan dari Allah subhanahu wa ta`ala dan tidak akan ada sesuatupun yang akan dapat mendatangkan mudharat kepadanya sampai ia meninggalkan tempat tersebut. Berkata Al-Qurthubi –rahimahullah-: “ Hadits ini adalah merupakan hadits yang shahih dan merupakan perkataan yang benar, yang telah kita ketahui benarnya secara dalil maupun secara pengalaman. Sungguh sejak aku pertama kali mendengar hadits ini dan aku amalkan maka benar-benar tidak ada sesuatu pun yang mendatangkan kemudharatan kepadaku. Hingga suatu saat aku tidak mengamalkannya doa tersebut. Maka pada suatu malam aku disengat kalajengking diwilayah Al-Mahdiyah. Lalu aku berpikir dalam hatiku apa yang telah aku lupakan, yang ternyata aku dapati aku lupa berlindung kepada Allah subhanahu wa ta`ala dengan membaca doa di atas.
Disunnahkan untuk tinggal sementara dan makan secara bersama di satu tempat.
Allah subhanahu wa ta`ala menjadikan kekuatan, kemuliaan, kekokohan dan barakah didalam persatuan. Dan Allah ta`ala menjadikan di dalam perpecahan ketakutan, kelemahan, dikuasai oleh musuh dan tercabutnya barakah Allah .Apabila suatu kaum melakukan perjalanan bersama-sama disunnahkan bagi mereka berkumpul pada tempat di mana mereka tiba dan bermalam. Demikian juga mereka bersama-sama makan agar mereka mendapatkan berkah. Adapun berkumpul ditempat mereka singgah, hal tersebut telah diriwayatkan oleh Abu Tsa`labah Al-Khusyani -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:
“Ketika para sahabat singgah di suatu tempat, para sahabat tersebut berpencar di lembah dan wadi , maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika kalian berpencar seperti ini ada yang di bukit aada yang di lembah, sungguh yang demikian ini adalah termasuk dari godaan syaithan. Setelah itu apabila mereka tun dfan singgah disuatu tempat mereka tidak lagi berpencar melainkan mereka saling berkumpul sebagian dengan sebagian lainnya hingga apabila dihamparkan sebuah pakaian kepada mereka niscaya akan mencakup mereka semua”
Berkumpul bersama dalam makan, akan mendatangkan berkah dan juga dan akan ditambahkan rezeki bagi mereka. Dari Husyai bin Harb dari Bapaknya dari Kakeknya, beliau berkata: Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Wahai Rasulullah, kami telah makan namun kami tidak bisa kenyang.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mungkin karena kalian makan dengan terpisah-pisah?” Para sahabat menjawab: “Benar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambesabda: “Berkumpullah kalian dalam makan di satu tempat dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberikan barakah pada makanan tersebut bagi kalian.”
Faedah: Disunnahkan at-tanahud ketika berada dalam sebuah perjalanan. An-nahdu adalah perbuatan dimana masing-masing teman mengeluarkan sesuatu berupa iuran sedekah yang mereka kumpulkan kepada salah seorang yang orang tersebut lalu membelanjakan makanan bagi mereka kemudia mereka bersama-sama makan.
Seseorang bertanya kepada Imam Ahmad -rahimahullah-: Apa yang lebih engkau cintai, seseorang sendirian makan atau orang tersebut makan dengan temannya? Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan : Dia makan dengan ditemani dan ini akan menjadikan mereka lebih akrab ketika saling tolong menolong. Dan apabila kalian sendiri dan juga yang lainnya tidak memungkinkan untuk memasak makanan, maka tidak mengapa untuk mengumpulkan iuran. Para ulama yang shalih telah mengumpulkan iuran satu dengan lainya. Apabila Al-Hasan melakukan suatu perjalanan beliau mengumpulkan iuran brsama mereka, dan beliau juga menambahkan dari iuran yang telah terkumpul, yaitu dengan diam-diam.
Tidur dalam safar
Seorang musafir terkadang pada perjalanan darat dengan terpaksa mesti beristirahat tidur setelah melewati perjalanan yang meletihkan. Dan syariat yang suci ini yang telah mengarahkan kaum manusia kepada semua yang akan memberi kemashlahatan bagi mereka baik yang disegerakan atau yang diakhirkan, termasuk diantara kemashlahatan itu, adalah arahan bagi seorang musafir untuk memilih tempatnya tidur beristirahat. Agar suapaya dia tidak terganggu dengan hewan-hewan berbisa maupun hewan-hewan lainnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Jika kalian safar ke negeri yang subur maka biarkan ontamu kenyang memakannya. Dan jika kalian safar ke daerah yang gersang maka bergegaslah untuk berlalu dari tempat tersebut. Apabila kalian berjalan disiang hari menjauhlah dari jalur lintas hewan dan hindarilah sarang hewan-hewan berbisa”.
An-Nawawi -rahimahullah- mengatakan: Ini merupakan adab dari adab-adab ketika dalam perjalanan dan ketika singgah di suatu tempat sesuai dengan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Disebabkan serangga-serangga serta hewan-hewan melata diatas tanah termasuk hewan-hewan yang berbisa dan juga hewan buas melintas pada waktu malam hari diatas jalan, karena mudah untuk dilalui. Dan juga disebabkan hewan-hewan tersebut akan memungut makan ataukah selainnya yang terjatuh. Hewan-hewan itu memungut potongan tulang dan selainnya. Apabila seseorang melakukan perjalanan disiang hari melalui jalan tersebut, terkadang dia akan mendapati hewan yang akan mengganggunya, maka sepatutnyalah dia menjauh dari jalan tersebut.
Kemudian sepantasnya bagi seorang musafir apabila dia hendak tidur, semamyang akan membantunya untuk bangun mengerjakan shalat shubuh. Dan pada zaman kita ini sarana-sarana seperti itu – walillahil hamdu – suatu yang sudah sangat dimudahkan dengan harga yang sangat murah. Rasul kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberi perhatian akan hal itu Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
Bahwa ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersiapkan kafilah/balatentara untuk Perang Khaibar, beliau melakukan perjalanan pada malam hari,dan apabila beliau merasa mengantuk {atau tidur} berjaga-jaga, dan beliau berkata kepada Bilal radhiallahu ‘anhu:” Jagalah aku di malam ini’.”
Dalam riwayat An-Nasa`i dan Ahmad dari riwayat Jubair bin Muth`im radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal Radhiallahu ‘anhu dalam suatu safar: Siapa yang berjaga pada malam tadi sehingga kami tidak tertidur pada saat shalat shubuh? Berkata Bilal: saya…al-hadits.”
Qatadah -radhiallahu ‘anhu- meriwayatkan: “Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam suatu safar dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak istirahat tidur pada malam harinya, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur terlentang menghadap kearah kanan, dan jika telah mendekati waktu shubuh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat lengannya dan meletakkan kepala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kedua telapak tangannya.”
Disunnahkan bagi musafir untuk segera kembali ke keluarganya setelah selesai urusannya dan tanpa menunda-nunda
Disunnahkan bagi seorang musafir apabila dia elah mencapai maksud dari perjalanannya tersebut agar segera kembali kepada keluarga. Tidak berdiam melebihi kebutuhannya. Rasulullah telah membimbing kita kepada adab ini dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Safar itu adalah bagian dari adzab, karena dengan safar ia terhalang untuk makan, minum, dan tidur. Maka jika telah selesai keperluannya maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.”
Ibnu Hajar -rahimahullah- mengatakan: Hadits ini menunjukkan makruhnya berpisah dari keluarganya lebih dari keperluannya. Dan disunnahkan untuk segera kembali kepada keluarganya apalagi ditakutkan kalau-kalau isterinya terabaikan disaat kepergiannya. Diaman berkumpul bersama keluarga akan memberikan kesejukan yang dapat membantu perbaikan baik agama atau duniawiyah. Dan pula berkumpul bersama keluarga akan mendatangkan rasa kebersamaan dan kekuatandalam pelaksaan ibadah.
Makruh bagi seorang musafir pulang menjumpai kepada keluarganya di malam hari
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang untuk mengetuk pintu rumah istrinya pada malam hari.”
Pada riwayat Muslim: “Jika salah seorang dari kalian datang dari suatu perjalanan, janganlah mengetuk pintu rumah isterinya hingga isterinya tersebut telah merapikan dan menyisir rambutnya.”
Dalam riwayat Muslim lainnya: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki untuk mengetuk pintu rumah keluarganya pada malam hari, yang akan menyulitkan merek atau mencari-cari kesalahan mereka”
Jadi sepantasnya bagi seorang musafir apabila dia kembali menjumpai isterinya untuk tidak mendatanginya di malam hari, sehingga ia tidak melihat apa yang dia benci dari penampilan istrinya yang tidak rapi.
Berkata An-Nawawi -rahimahullah-: “…bahwa dibenci bagi orang yang bepergian dalam waktu lama lalu menemui istrinya pada malam hari dengan tiba-tiba. Adapun jika jarak safarnya dekat dimana istrinya akan memprediksi kedatangannya diwaktu malam, maka ini tidaklah mengapa sebagaimana disebutkan oleh beliau – Imam Asy-Syafi’i – didalam salah satu riwayat beliau: Apabila seseorang pergi dalam waktu yang lama. Apabila dia bersama dengan kelompok yang besar atau bala tentara dan semislanya dan telah terkenal kedatangan dan waktu tiba mereka dan pula istri dna keluarganya telah mengetahui bahwa suaminya tersebut datang bersama dengan mereka, dan mereka sekarang telah masuk kedalam kota. Maka tidaklah mengapa dia datang kapan saja dikehendakinya, karena alasan yang terkandung dalam larangan telah tertiadakan karena pengetahuan tersebut. Karena maksud dari hal tersebut agar keluarganya mempersiapkan diri dan hal tersebut telah tercapai. Dan diapun sudah datang dengan tiba-tiba .
Saya berkata: Semisalnya apabila mereka mengetahui kedatangannya melalui penyampaian telepon dan semisalnya.
Disunnahkan shalat dua rakaat bagi musafir ketika kembali ke negerinya
Diantara petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali dari suatu perjalanan maka yang pertama kali segera beliau lakukanshalat dimasjid dua raka’at.
Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan: Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apabila beliau tiba dari suatu perjalanan pada waktu dhuha,beliau mendatangi masjid lalu mengerjakan shalat dua raka’at sebelum beliau duduk “
Ini meruapkan diantara sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah terabaikan. Sangat jarang sekali ada yang mempraktekkannya. Kami memohon kepada Allah untuk senantiasa mengikuti sunnah Nbai Engkau Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik secara zhahir maupun batin. Wabillahi taufiq.
Faedah: Perkataan Ka’ab radhiallahu ‘anhu : “ Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau tiba dari suatu perjalanan pada waktu dhuha … "Mensyariatkan bahwa kedatangan seorang musafir pada waktu yang terlarang tidak disyariatkan baginya untuk mengerjakan dua raka’at, akan tetapi perkara ini tidaklah seperti itu.
Ibnu Hajar mengatakan: “ An-Nawawi berkata: Shalat tersebut adalah shalat yang diperuntukkan – baca diniatkan, penj – apabila telah tiba dari suatu perjalanan dengan meniatkan shalat al-qudum. Bukan shalat tahiyyah al-masjid yang diperintahkan bagi seseorang yang masuk kedalam masjid sebelum duduk. Akan tetapi shalat al-qudum ini juga sudah memenuhi shalat tahiyyat al-masjid. Dan sebagian ulama yang menolak pembolehan shalat pada waktu-watu yang terlarang walau itu shalat dengan alasan tertentu, dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ waktu dhuha “. Namun sbada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut tidak dapat dijadikan argumentasi, karena merupakan waqi’ah al-‘ain – kejadian yang berlaku khusus, penj – “
Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.

Monday, September 14, 2009

Idulfitri

Isnin, 24 Ramadhan 1430H - Dalam beberapa hari lagi Ramadhan yang mulia akan melabuhkan tirainya yang menandakan berakhirnya kemuliaan bulan ini dan disusuli pula dengan kedatangan Hari Raya Aidilfitri, atau menurut bahasa Arabnya ialah Idul Fitri yang bermaksud kembali kepada fitrah.
Ianya sebagai hadiah kemenangan orang-orang Islam dalam perjuangan mengengkang hawa nafsu di bulan Ramadhan. Allah SWT membalasnya dengan satu hari yang dinamakan ‘Idulfitri atau Hari Raya Fitrah, di mana Allah SWT menghalalkan mereka berbuka puasa dan mengharamkan berpuasa pada hari tersebut ( 1 Syawal ). Dalam keghairahan menyambut Hari Raya yang mulia adalah wajar ianya disambut mengikut lunas- lunas yang digariskan oleh Syara‘ dan tidak dicampurbaurkan dengan perkara-perkara yang dilarang atau yang diharamkan. Hari Raya memang tidak boleh disamakan dengan sambutan perayaan- perayaan yang lain, kerana ianya merupakan kurniaan Allah SWT khusus kepada hamba- hamba yang beribadat dan berjuang melawan hawa nafsu sepanjang bulan Ramadhan.
Banyak fadilat atau kelebihan yang terdapat pada malam Hari Raya. Oleh sebab itu, di antara adab-adab dan perkara-perkara sunat yang telah digariskan oleh Syara‘ untuk kita melakukannya ialah menghidupkan malam Hari Raya itu dengan melakukan amal-amal ibadat seperti mendirikan sembahyang fardhu secara berjemaah, melakukan sembahyang sunat, bertakbir, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi dan melakukan apa- apa jua bentuk perkara yang berkebajikan. Dan bukannya melihat rancangan hiburan di TV atau berhibur ditempat-tempat yang dilarang oleh Syara.’
Rasulullah SAW bersabda diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. maksudnya: “Hiasilah Hari Raya kamu dengan Takbir dan Tahmid.” Di dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda daripada Anas r.a. maksudnya: “Hiasilah kedua-dua Hari Raya kamu iaitu Hari Raya Puasa dan juga Hari Raya Korban dengan Takbir, Tahmid dan Taqdis.”
Al-Imam Al-Syafie Rahimahullahu Ta‘ala telah menegaskan bahawa malam Hari Raya itu adalah di antara malam-malam yang mudah diperkenankan doa, sebagaimana beliau berkata di dalam kitabnya Al-Umm: "Telah sampai kepada kami bahawasanya pernah dikatakan, sesungguhnya doa itu sungguh mustajab pada lima malam; malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitrah, awal malam Rajab dan malam Nisfu Sya‘ban.”
Perlu diingat juga, kelebihan menghidupkan malam Hari Raya itu tidak akan diperolehi melainkan dengan mengisi dan menghidupkan sebahagian besar malam tersebut, sebagaimana mengikut pendapat yang shahih. Kemeriahan Hari Raya lebih dirasai apabila laungan takbir bergema. Namun begitu, tidak bermakna takbir itu semata-mata untuk memeriahkan suasana tetapi lebih dari itu, ianya lebih bersifat untuk melahirkan rasa kesyukuran dan mengagungkan Allah SWT. Allah memerintahkan kepada kita mengakui akan kebesaran dan keagunganNya dengan mengucapkan takbir.
Ucapan takbir pada malam Hari Raya itu merupakan ibadah yang kita lakukan untuk melepaskan Ramadhan dan untuk menyambut kedatangan ‘Idulfitri. Oleh sebab itu, disunatkan kepada kita mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sembahyang Hari Raya. Firman Allah Ta‘ala: Maksudnya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (Surah Al-Baqarah : 185)
Di pagi Hari Raya pula disunatkan mandi kerana Hari Raya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas ra dan Al-Fakih bin Sa‘d ra bahawa Rasulullah SAW melakukan mandi pada Hari Raya Fitrah dan Hari Raya Adha. Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah.
Di samping itu disunatkan juga memakai pakaian yang sebagus-bagusnya, memakai harum-haruman dan menghilangkan segala bau-bau yang tidak elok. Tidak kira sama ada orang itu hendak keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Hari Raya ataupun duduk sahaja di rumah, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok. Diriwayatkan daripada Ja‘far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya: Maksudnya: "Bahawasanya Rasulullah SAW memakai kain yang bergaris-garis (untuk diperselimutkan pada badan) pada setiap kali Hari Raya."(Hadits riwayat Al-Syafi‘e dan Al-Baghawi)
Sebelum keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang sunat Hari Raya Fitrah disunatkan makan dan minum terlebih dahulu kerana mengikut apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas ra, beliau berkata: Maksudnya: "Nabi SAW tidak keluar pada waktu pagi Hari Raya Fitrah sehingga Baginda makan (terlebih dahulu) beberapa biji tamar dan Baginda memakannya dalam bilangan ganjil."(Hadits riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)
Selain itu, Hari Raya merupakan hari kemenangan dan kegembiraan, maka sebab itu disunatkan bagi sesama muslim saling mengucapkan tahniah antara satu sama lain dengan mengucapkan: Ertinya: "Semoga Allah menerima daripada kita dan menerimaNya daripada awak." Daripada Jubair bin Nufair, di mana beliau merupakan salah seorang Tabi‘en (orang-orang yang datang setelah Sahabat Nabi SAW ) telah berkata (maksudnya): "Sahabat- sahabat Rasulullah SAW apabila mereka berjumpa di Hari Raya, setengahnya mengucapkan kepada setengah yang lain: Ertinya: "Semoga Allah menerima daripada kami dan menerimaNya daripada awak."
Menurut pandangan jumhur ulama bahawa mengucapkan tahniah di Hari Raya merupakan sesuatu perkara yang disyari‘atkan di dalam Islam. Al-Imam Al-Qalyubi menaqalkan daripada Al-Imam Ibnu Hajar bahawa memberi atau mengucapkan tahniah pada hari-hari raya, bulan-bulan dan tahun- tahun (kerana ketibaannya) merupakan perkara yang disunatkan. Al-Imam Al-Baijuri mengatakan: Inilah yang yang dii‘timadkan.(Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah, Juz 14, m.s. 100)
Manakala itu pula, amalan saling ziarah menziarahi rumah terutama sekali saudara mara terdekat dan sahabat handai merupakan suatu tradisi yang sentiasa diamalkan ketika menyambut Hari Raya. Amalan ini juga sebenarnya termasuk di dalam perkara yang digemari dan disyariatkan di dalam Islam. Dalil yang menunjukkan pensyariatannya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah rha, beliau berkata: Maksudnya: "Rasulullah SAW masuk kepadaku, dan di sisiku ada dua orang anak perempuan yang menyanyi dengan nyanyian Bu‘ats. Lalu Baginda baring di atas hamparan dan memalingkan mukanya, dan kemudian Abu Bakar masuk, lalu mengherdikku dengan berkata: "Seruling syaitan di sisi (di tempat) Nabi SAW!" Rasulullah SAW menghadap kepada Abu Bakar lalu berkata: "Biarkan mereka berdua itu." Melalui riwayat Hisyam Baginda menambah: "Wahai Abu Bakar, masing-masing kaum ada hari rayanya, dan hari ini adalah Hari Raya kita."(Hadits riwayat Al-Bukhari).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menerangkan di dalam kitabnya Fath Al-Baari bahawa kedatangan atau masuknya Abu Bakar ra ke dalam rumah Rasulullah SAW menunjukkan seolah-olah Abu Bakar ra datang sebagai pengunjung atau penziarah selepas masuknya Rasulullah SAW ke dalam rumah Baginda. (Al-Fath Al-Baari, Juz 3, m.s. 116 & Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah, Juz 31, m.s. 117)
Sehubungan dengan perkara ziarah menziarahi ini, adalah ditekankan kepada orang yang pergi berziarah supaya sentiasa komited terhadap etika ziarah yang ditetapkan oleh Islam. Umpamanya hendaklah meminta izin atau memberi salam sebelum masuk, tidak menghadapkan muka langsung ke arah pintu, menjaga adab kesopanan ketika berada di dalam rumah orang yang diziarahi, memilih waktu yang sesuai untuk berziarah dan sebagainya.
Dalam keghairahan menyambut Hari Raya, perlu diingat jangan sekali-kali sampai lupa kewajipan kita kepada Allah Ta‘ala iaitu mendirikan sembahyang fardhu, dan kerana terlalu seronok jangan pula adanya berlaku perlanggaran batasan-batasan agama. Apa yang di harapkan daripada sambutan Hari Raya sebenarnya bukannya semata-mata kegembiraan atau keseronokan tetapi yang lebih penting dan lebih utama lagi ialah mendapatkan keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Semoga kita semuanya mendapat keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala kerana menghidupkan, membesarkan dan mengagungkan Hari Raya Idulfiri.

Friday, September 11, 2009

Lidah Merosakkan Puasa

Jumaat, 21 Ramadhan 1430H - Ketahuilah bahwa bahaya lisan (lidah) itu besar sekali, dan manusia tidak akan selamat dari bahaya ini, melainkan dengan bertutur kata yang baik saja.

Nabi s.a.w. telah bersabda: “Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. Dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya.”

Berkata Mu’az bin Jabal kepada Rasulullah s.a.w.: “Apakah kita akan dihisab juga atas apa yang kita katakan, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Wahai Mu’az! Tidakkah engkau ketahui bahwa manusia itu akan ditelengkupkan menerusi hidung-hidung mereka disebabkan hasil tuaian lidah-lidah mereka.”

Ibu Mas’ud (Abdullah bin Mas’ud) r.a. pernah berkata: “Wahai lidah! Sebutkanlah yang baik-baik, niscaya engkau akan dapat faedah. Dan berdiamlah dari berkata buruk, niscaya engkau terselamat sebelum engkau menyesal.”

Sabda Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa yang memelihara lidahnya, Allah akan menutup kecelaannya. Barangsiapa yang menahan kemarahannya, Allah akan melindunginya dari siksaNya. Dan barangsiapa yang menyatakan keuzurannya kepada Allah, Allah akan menerima uzurnya”.

Rasulullah s.a.w. juga bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka berkatalah yang baik ataupun berdiam saja”

Sabdanya lagi: “Jagalah lidahmu kecuali bila berkata yang baik. Dengan berlaku demikian engkau akan mengalahkan syaitan.”

Mengumpat orang (ghibah)

Allah s.w.t. telah menaskan celaan mengumpat ini di dalam kitabNya yang mulia, dan telah menyamakan orang yang suka mengumpat itu, dengan orang yang memakan daging saudaranya yang telah mati. Allah telah berfirman: “Dan janganlah setengah kamu mengumpat setengah yang lain, Adakah seseorang kamu suka memakan daging saudarnya yang telah mati, tentulah kamu sekalian benci memakannya.”(al-Hujurat: 12)

Rasulullah s.a.w. pula bersabda: “Setiap orang Muslim atas Muslim yang lain haram darahnya (tidak boleh membunuhnya tanpa hak), haram hartanya (tidak boleh merampasnya) dan haram kehormatannya (tidak boleh mengumpatnya).

Ghibah atau mengumpat itu melanggar kehormatan orang, seperti yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah s.a.w, “Wahai golongan orang-orang yang telah beriman lidahnya, tetapi belum beriman pula hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin dan jangan pula mengintip-intip keaiban-keaibannya. Sebab barangsiapa yang mengintip keaiban saudaranya, niscaya Allah akan mengintip keaibannya, dan siapa yang Allah mengintip keaibannya, nescaya Dia akan mendedahkannya, meskipun ia berada di tengah-tengah rumahnya.”

Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa dia telah mengulas tentang maksud ayat berikut: “Celakalah untuk setiap pengumpat, penista.”(al-humazah: 1)

Erti pengumpat di sini, ialah menikam peribadi seseorang dengan kata-kata yang memburukkan dan melukai hati. Dan penista pula diumpamakan seperti memakan daging saudara yang telah mati melalui mengumpat.

Didapati bahwa kebanyakan para Salaf Saleh berpendapat, bahwa ibadat itu bukanlah hanya setakat puasa atau bersembahyang saja, tetapi terkira dalam ibadat juga menahan diri dari mengumpat orang lain.

Ibnu Abbas berkata: Andaikata anda ingin menyebut-nyebut keaiban sahabatmu, terlebih dulu sebutkanlah keaiban diri sendiri.

Pengertian mengumpat dan batasnya

Ketahuilah bahwa batas mengumpat itu, ialah apabila anda menyebut sesuatu yang boleh menimbulkan kebencian atau kemarahan saudaramu, bila ia mendengarnya, sama ada yang disebutkan oleh anda sebagai kekurangan-kekurangan pada anggota badannya, atau keturunannya, atau bentuk kejadiannya, atau perbuatannya, atau perkataannya, atau agamanya, atau dunianya ataupun pada pakaiannya, rumahnya dan binatang kenderaannya sekalipun.

Yang dikatakan kekurangan-kekurangan dalam anggota badan, ialah seperti anda mengatakan dia itu rabun juling, botak, pendek, panjang, hitam, kuning dan lain-lain sifat yang boleh menjadikan ia merasa benci dan marah jika mendengarnya.

Mengenai kekurangan-kekurangan dalam nasab keturunan pula, ialah seperti anda mengatakan, bahwa bapanya seorang fasik, jahat dan rendah kelakuannya, ataupun bapanya tukang pikul air, atau sebagainya yang boleh menyebabkan ia marah dan benci.

Mengenai kekurangan-kekurangan dalam bentuk dan rupa, ialah seperti anda mengatakan, bahwa ia itu buruk atau hodoh bentuk kejadiannya, kikir, sombong, bongkak, suka bermegah diri, pemanas, pengecut, degil atau seumpamanya.

Adapun tentang kekurangan-kekurangan dalam perbuatannya mengenai urusan keduniaan ialah seperti anda mengatakan, bahwa iaitu seorang pencuri, penipu, pembohong, taik arak, pengkhianat, zalim suka cuaikan sembahyang, tidak keluarkan zakat, tidak mengambil berat tentang perkara-perkara najis, menderhaka kepada ibu bapa atau seumpamanya.

Manakala perbuatannya yang mengenai urusan keagamaan pula, seperti anda mengatakan, iaitu kurang ajar orangnya, tidak mengendahkan orang, banyak mulut, besar temboloknya, suka tidur banyak, tak tahu meletakkan diri pada tempatnya.

Yang mengenai pakaian pula ialah seperti anda mengatakan bahwa lengan bajunya terlalu panjang, seluarnya terlalu labuh ke bawah, bajunya kotor dan seumpamanya.

Walhasil kata yang menyeluruh dalam pengertian ghibah atau mengumpat, iaitu seperti yang terkandung di dalam Hadis Rasulullah s.a.w, “Ghibah (mengumpat) itu adalah anda menyebut perihal saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.”

Yang dilarang pula, ialah menyebut perihal saudaramu dengan lidah, sebab dengan sebutan itu anda dapat menyampaikan kekurangan-kekurangan saudaramu dan mendedahkan perkara-perkara yang dibencinya kepada orang lain. Oleh yang demikian, maka membuat sindiran itu samalah seperti berkata terang-terangan, perbuatan samalah seperti perkataan, mengisyarat samalah seperti mengangguk, berkelip mata samalah seperti menunjuk gerak laku. Pendek kata apa saja yang dilakukan olehmu boleh menunjukkan kepada maksud ghibah atau mengumpat, maka ia adalah dilarang dan dihukumkan haram.

Jadi orang yang mengisyaratkan dengan tangannya perihal pendek atau panjangnya seseorang, ataupun ia meniru-niru tentang gaya perjalanan orang itu, maka itu juga adalah ghibah yang dilarang. Menulis mengenai keaiban diri seseorang adalah ghibah juga, sebab qalam atau pena itu ganti lisan.

Termasuk ghibah juga, jika anda menunjukkan sesuatu ucapan kepada seseorang tanpa menyebut namanya, misalnya anda berkata: Si anu yang baru sampai dari pelayaran ataupun setengah-setengah orang yang berjalan di hadapan kita hari ini, bila orang yang ditujukan ucapan itu faham, bahwa ia yang dimaksudkan, maka itu juga ghibah.

Demikian juga, jika seseorang itu tersinggung sebab keaibannya disebutkan dalam sighah (bentuk) berdoa, seperti orang yang berdoa: Alhamdulillah, Tuhan tidak mengenakan aku bala’ itu, atau penyakit itu (disebutkan hadapan orang yang kena bala’ atau penyakit itu).

Termasuk ghibah juga, jika orang mula memuji-muji seseorang yang ingin dikejinya. Misalnya ia berkata: Alangkah baik sekali hal-ehwal orang itu, tetapi malangnya dia juga sama seperti kita sekalian begini dan begitu. Disebut diri orang itu dengan dibandingkan dengan dirinya, dan tujuannya tidak lain melainkan mencaci orang itu.

Di antaranya juga, jika ia menyebut keaiban seseorang di hadapan orang ramai, tetapi mereka tidak dapat mengagak siapa orang yang ditujukan celaan itu, lalu ia menyebut pula: Subhanallah. Hairan betul si fulan itu dengan kelakuannya! Hingga apabila di dengar lagi oleh orang-orang itu, mereka pun faham siapa orang ditujukan celaan tadi. Ini adalah suatu dosa yang besar, sebab si pengumpat itu telah menggunakan nama Allah Ta’ala, iaitu nama Tuhan dijadikan perantaraan untuk merealisasikan cita-citanya yang jahat itu.

Di antaranya juga, kata-kata orang begini: Sungguh sedih aku, apa yang telah berlaku di atas sahabat kita, kerana kecuaian dan perilakunya yang tak baik. Maka orang yang berkata begitu, adalah pembohong orangnya, sebab andaikata ia benar-benar merasa sedih dan dukacita, tentulah ia tidak begitu senang melahirkan kepada orang ramai sesuatu yang akan dibenci oleh sahabatnya.

Di antaranya juga, jika ia berkata: Kasihan si miskin itu, ia telah dicubai dengan suatu bala’ yang besar, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita dan dosanya. Nyatalah pada lahirnya, ia pura-pura melahirkan doa, tetapi Allah lebih mengetahui tentang isi perutnya dan niat busuknya. Dan oleh kerana kejahilannya, ia tidak sedar bahwa ia telah melibatkan dirinya dalam suatu kutukan besar dari Allah Ta’ala.

Di antaranya, ialah jika ia mendengar ghibah atau umpat dengan penuh takjub dan cenderung dengan maksud agar si pengumpat it akan bertambah semangat dan terdorong terus untuk mengumpat secara berlebih-lebihan. Ia akan menggalakkan si pengumpat itu supaya meneruskan pengumpatannya dengan berkata: Ajaib, aku tak tahu yang dia itu begini. Ataupun dengan berkata: Memang aku tidak menyangka sama sekali bahwa dia boleh berkelakuan semacam itu. Ataupun: Mudah-mudahan Allah selamatkan aku dari bala’ seperti ini. Semua ucapan-ucapan serupa itu adalah sama seperti membenarkan kata-kata si pengumpat itu, manakala membenarkan kata-kata orang yang mengumpat samalah seperti mengumpat juga. Sedangkan orang yang mendiamkan diri saja, tanpa membuat apa-apa bantahan, tutur bersyarikat dengan orang yang mengumpat itu. Dia tetap menerima dosanya juga, kecuali jika ia mengingkarinya dengan lidah, ataupun sekurang-kurangnya dalam hati, kalau ia takut kepada orang itu.

Dalam sebuah Hadis: “Bilamana seorang Mu’min dihinakan di hadapan Mu’min yang lain, dan tidak menolongnya padahal ia berkuasa menolong, niscaya Allah akan menghinakannya di Hari Kiamat di hadapan khalayak ramai.

Dalam suatu riwayat yang lain: “Barangsiapa yang mempertahankan kehormatan saudaranya secara rahsia, niscaya menjadi wajib atas Allah untuk mempertahankan kehormatannya kelak di Hari Kiamat.”

Sebab-sebab ghibah

Ada beberapa perkara yang menarik orang kepada suka mengumpat, di antaranya:

1. Untuk memuaskan hati, iaitu apabila berlaku sesuatu sebab yang menaikkan kemarahannya, kerana manusia tatkala sedang meluap-luap kemarahannya, hatinya akan merasa puas bila ia dapat menyebut-nyebut keburukan-keburukan orang yang dimarahinya itu. Maka tanpa disedari lidahnya akan menyebut segala yang bukan-bukan ini sekiranya jiwa orang itu tidak dapat dikendalikan oleh jiwa agama. Adakalanya pula seseorang itu dapat mengontrol dirinya ketika dalam kemarahan, akan tetapi dipendamkan kemarahan itu dalam hatinya, sehingga lama-kelamaan menjadi dengki dan dendam khusumat dan akhirnya ia akan tertarik juga kepada sifat mengumpat dengan menyebut-nyebut keburukan orang yang dimarahinya itu.

Pendek kata kedengkian yang menyebabkan dendam khusumat dan kemarahan itu adalah pendorong yang utama kepada sifat ghibah atau pengumpatan.

2. Menurutkan kemahuan rakan handai dan membantu mereka dalam memperkatakan perihal orang lain. Seringkali berlaku ketika berlucu dan bersenda gurau itu, diperbualkanlah tentang hal-ehwal dan urusan orang lain, maka ia akan menjadi serba salah, andaikata ia mengingkarkan kelakuan itu ataupun ia meninggalkan majlis mereka, tentulah rakan handainya akan merasa kurang senang terhadapnya dan mereka akan menyingkirkannya sama sekali. Oleh itu diturutkanlah kemahuan mereka itu, malah ia juga turut campur sekaki dalam celaan dan pengumpatan. Pada anggapannya, sikap itu adalah untuk menjaga perhubungan baik dengan kawan-kawan, tetapi tanpa disedarinya, ia telah tercebur ke dalam bahaya dosa kerana mengumpat. Terkadang-kadang ia terpaksa melahirkan kemarahannya terhadap orang yang dicela itu, ketika kawan-kawan sekalian menampakkan kemarahan terhadapnya, untuk membuktikan simpatinya kepada kawan-kawan dalam suka dan duka.

Nyatalah orang ini telah terlibat dalam sifat mengumpat orang lain, dengan menyebut keaiban-keaiban dan keburukan-keburukannya, disebabkan percampurgaulan yang tidak sihat.

3. Menunjuk-nunjuk kelebihan peribadinya dengan kemegahan dan keistimewaan, iaitu mengangkat dirinya sebagai lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya dari si fulan atau si fulan.

4. Hasad dan irihati, iaitu menyimpan perasaan tidak enak, bila mendengar orang lain dipuji-puji atau disanjung oleh orang ramai, ataupun kerana sesuatu sebab atau yang lain, maka orang itu dihormati dan dimuliakan, sehingga menyebabkan ia merasa bosan terhadapnya. Oleh itu maka timbullah perasaan dengki dan hasad di dalam hatinya, dicubalah berbagai-bagai cara untuk melenyapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang itu, maka tiadalah didapatinya melainkan dengan jalan mencela atau mengumpatnya, sehingga orang ramai berhenti dari memuji-muji orang itu atau menghormatinya, sebab jiwanya tidak tertanggung lagi untuk mendengar segala kepujian dan penghormatan orang ramai terhadap orang itu.

5. Menghadirkan diri dalam majlis-majlis pencengkeramaan atau senda gurauan serta menghabiskan masa dengan bergelak ketawa, di mana di dalam majlis-majlis serupa itu, biasanya di sebut berbagai-bagai keburukan dan keaiban orang lain yang boleh menimbulkan gelak ketawa. Ini boleh berlaku dengan jalan menceritakan perihal orang dengan melahirkan rasa takjub terhadap perilaku orang itu.

6. Menista dan mengejek-ejek orang dengan tujuan untuk meghinanya. Puncanya ialah sifat takabbur dan bongkak dalam diri sendiri, serta memandang orang lain semuanya rendah, hina, bodoh atau jahil.

Selain yang tersebut di atas tadi, ada banyak lagi sebab-sebab yang boleh menarik manusia kepada tercebur dalam bahaya ghibah, atau pengumpatan itu, dan pokok pangkalnya ialah desas-desus syaitan dan hasutannya. Misalnya ia menyebut nama seorang ketika dalam keadaan takjub dengan berkata: Aku hairan si fulan itu. Bagaimana ia boleh duduk seiringan dengan si alim, padahal ia jahil dan bodoh! Takjub semacam ini meskipun benar, tetapi terkira suatu kemungkaran juga.

Misal yang lain, jika ia berkata kerana belas kasihan: Kasihan si fulan itu. Aku merasa sedih mengenangkan halnya, dan melihat bahaya yang menimpanya. Padahal ia mengucapkan yang demikian itu benar-benar dari tulus-ikhlas hatinya. Itu juga terkira suatu ghibah.

Seterusnya ghibah juga boleh berlaku dalam keadaan marah. Misalnya ia merasa sangat marah, bila melihat seorang melakukan sesuatu kemungkaran di hadapannya, lalu dilahirkannya sikap marahnya itu, dan disebut-sebutkan pula nama pelakunya kepada semua orang. Padahal yang wajib dalam perkara semacam ini, ia merahsiakan nama orang itu dan tidak dijajakan namanya kepada orang lain. Dan sememangnya, tidak ada alasan baginya, mengapa ia mesti memberitahukan nama orang itu kepada orang lain.

Penawar yang dapat mengekang lidah dari mengumpat

Ketahuilah bahwasanya segala keburukan-keburukan akhlak, dan kelakuan yang terkeji dapat dipulihkan semula dengan pati dan inti ilmu pengetahuan dan amalan.

Adapun penawar untuk mengekang lidah dari mengumpat orang secara ringkas, maka hendaklah seseorang itu mengetahui, bahwa suka mengumpat itu akan mendedahkan dirinya kepada kemurkaan Allah Ta’ala. Tegasnya, bila ia mengumpat orang samalah seperti ia melanggar perintah atau larangan Allah Ta’ala. Maka apabila seseorang itu penuh percaya dengan khabar-khabar (hadis) dan berita-berita yang menegahnya dari ghibah atau mengumpat, hendaklah ia memelihara lidahnya dari mengumpat, kerana takut terjatuh ke dalam dosa. Suatu cara lain yang berguna baginya ialah dengan meneliti diri sendiri terlebih dulu, apakah dalam dirinya itu ada atau tiada keaiban atau keburukan-keburukan. Jika ada, tentulah lebih utama ia membetulkan diri sendiri daripada mengumpat orang lain.

Rasulullah s.a.w. telah bersabda: “Bertuahlah orang yang sentiasa bekerja kuat untuk membetulkan diri sendiri, daripada menyebut-nyebut keaiban orang lain.”

Apabila terdapat pada diri seseorang sesuatu keburukan, maka sepatutnya ia merasa malu kerana lalai untuk membetulkan diri sendiri sebaliknya mencuba pula untuk membetulkan orang lain. Seterusnya hendaklah ia faham, bahwa jika ia mendapati orang lain itu bersikap lemah, atau tidak berdaya untuk membetulkan dirinya sendiri. Ini jika keaiban-keaiban atau keburukan itu dilakukan oleh orang itu dengan sengaja dan dengan pilihan sendiri bukan terpaksa. Tetapi jika keaiban atau keburukannya itu memang dari asala semula jadinya, maka mencelanya samalah seperti mencela Tuhan yang menjadikannya. Sebab siapa yang mencela sesuatu ciptaan, maka ia telah mencela penciptanya.

Apabila seseorang hamba mendapati dirinya sepi dari keaiban atau keburukan, maka sayugialah hendaknya ia mensyukuri Allah Ta’la yang telah memeliharaya dari segala sifat-sifat yang tidak baik itu. Dan jangan pula ia cuba mengotori peribadinya dengan keburukan-keburukan yang amat tercela kelak. Sebab mencela atau mengumpat orang lain itu diumpamakan seperti memakan daging orang mati, dan ia adalah terkira antara sebesar-besar keaiban.

Bahkan jika ia menginsafi dirinya dan bertenang sejenak, niscaya ia akan dapati, bahwa sangkaannya yang dirinya itu suci dari segala keaiban dan keburukan itu adalah salah. Ini membuktikan juga, bahwa ia masih belum kenal betul-betul dengan diri sendiri. Orang yang menganggap dirinya tidak pernah bersalah adalah berdosa besar.

Cara yang lain untuk menjaga diri dari ghibah, ialah dengan memahami, bahwa orang yang dicelanya itu akan merasakan pedihnya celaan itu, sama seperti dirinya sendiri bila dicela oleh orang lain. Jika sekiranya ia tidak meredhai orang lain mencelanya, maka sewajarnyalah ia juga tidak meredhai orang lain mencelanya, maka sewajarnyalah ia juga tidak meredhai sesuatu bagi orang lain, sebagaimana ridak diredhainya sesuatu itu bagi dirinya sendiri.

Kesimpulannya: Sesiapa yang memang kuat keimanannya tentulah lidahnya akan terpelihara dari ghibah atau mengumpat orang lain.

Menyangka buruk adalah mengumpat di dalam hati.

Ketahuilah bahwa menyangka buruk terhadap orang lain adalah haram, dan samalah seperti haramnya melemparkan kata-kata keji terhadapnya. Sebagaimana haram anda mengucapkan perihal keburukan-keburukan orang dengan lidahmu, maka begitu jugalah dilarang anda mengucapkan keburukan-keburukan di dalam hari, ataupun menyangka buruk terhadapnya. Apa yang dimaksudkan dengan sangkaan buruk itu, ialah sesuatu yang disimpulkan oleh hati, kemudian dilemparkan ke atas orang lain menerusi sangkaan yang buruk.

Adapun segala yang terlintas di dalam hati, ataupun yang dibicarakan di dalam diri, maka yang demikian itu adalah dimaafkan. Tetapi yang dilarang dengan keras, ialah menyangka yang bukan-bukan. Dan sangkaan itu diumpamakan dengan sesuatu yang dirasa tenang oleh jiwa dan dicenderungi oleh hati.

Allah s.w.t. telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah sebahagian besar dari sangkaan-sangkaan, kerana setengah dari sangkaan itu ada megandungi dosa.” (al-Hujurat: 12)

Sebabnya sangkaan itu diharamkan, bahwa segala rahsia-rahsia hati tiada siapa yang mengetahuinya, melainkan Allah Yang Maha Mengetahui segala perkara-perkara yang ghaib. Oleh kerana itu, tidak wajarlah bagimu untuk mempercayai adanya suatu keburukan di dalam hati seseorang, melainkan setelah ternyata kepadamu keburukannya, yang mana anda menyaksikan sendiri dengan mata kepala tanpa perantaraan orang lain. Apabila perkara itu belum tersingkap lagi, sepertimana yang anda mempercayainya, maka yakinlah bahwa yang menarik anda kepada sangkaan itu adalah syaitan dan hasutannya. Jadi hendaklah anda membohongi sangkaan buruk itu, dan tidak segera terpengaruh dengan ajakan syaitan, kerana syaitan itu adalah sefasik-fasik kaum yang fasik. Allah Ta’ala telah berfirman lagi;

Wahai orang-orang yang beriman, jika sekiranya ada seorang fasik membawa suatu berita kepada kamu, maka hendaklah kamu menyelidikinya terlebih dulu, agar kamu tiada mencela sesuatu kaum tanpa usul periksa.”

Dalam sebuah Hadis pula disebutkan sabdanya: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan darah seorang Muslim serta harta bendanya dan menyangka terhadap dirinya dengan sangkaan buruk.”

Kalau begitu apabila terlintas saja di dalam hatimu bisikan atau hasutan syaitan, supaya menyangka buruk terhadap seseorang, maka hendaklah anda menolaknya. Kemudian, cubalah yakinkan kepada dirimu pula, bahwasanya hal dan keadaan orang itu masih belum tersingkap lagi, dan tiada dapat diketahui perkara yang sebenarnya. Anggaplah segala apa yang anda saksikan daripadanya itu, boleh mengandungi kebaikan dan keburukan.

Bagaimana dapat dikatakan bahwasanya sangkaan yang disimpulkan di dalam hati itu telah menjadi bulat, sedangkan syak dan keraguan masih bergelora dan jiwa sering pula mengatakan tanpa usul periksa?

Untuk menjawabnya, kita katakan bahawasanya tanda-tanda bulatnya sangkaan di dalam hati, ialah apabila sifat hati itu telah berubah dari kebiasaannya terhadap orang yang dilemparkan sangkaan itu. Ia tidak pandang lagi orang itu, sama seperti sebelum ia menyangka buruk terhadapnya. Ia akan menjauhkan diri daripada orang itu, merasa berat untuk berkawan dengannya, tiada mengambil berat terhadap hal-ehwalnya, tiada pernah mencari atau menghormatinya, atau merasas sedih oleh sesuatu yang menimpanya.

Jalan keluar untuk menghindarkan diri dari perilaku ini, hendaklah ia tidak mengikut sangat kehendak hati, yakni tidak merealisasikan sikap serupa itu, sama ada dengan ucapan mahupun perbuatan, baik menerusi hati ataupun anggota. Mungkin sekali ketika itu syaitan akan menghasut bahwa sikap itu timbulnya dari kecerdasan otakmu dan ingatan serta kecerdikanmu yang spontan. Bukankah telah dikatakan bahwasanya orang Mu’min itu dapat melihat sesuatu dengan cahaya dari Allah Ta’ala? Maka ketahuilah, yang sebenarnya itu adalah bisikan dan waswas syaitan semata-mata yang telah menjadikan anda melihat dengan tipu dayanya dan kegelapan petunjuknya.

Walau bagaimanapun, apabila telah ternyata kepadamu kekhilafan atau keterlanjuran seorang Mu’min dengan bukti dan hujah, maka sebaik-baiknya ialah anda menasihatkannya secara rahsia. Dalam pada itu, jagalah dirimu, agar tidak tertipu oleh syaitan, sehingga ia akan menarik kepada mengumpat orang Mu’min itu.

Di antara buahnya (natijahnya) sangkaan buruk itu, ialah mengintip hal-ehwal orang. Sebab biasanya hati itu tidak memadai dengan menyangka buruk saja, malah ia akan berusaha untuk mendapatkan kenyataan atau hakikatnya, maka dilakukan olehnya pengintinpan, dan ini juga dilarang keras oleh Islam.

Allah telah berfirman: “Dan janganlah kamu mengintip-intip.” (al-Hujurat: 12)

Nyatalah sudah, bahwasanya mengumpat, menyangka buruk dan mengintip it disebutkan larangannya di dalam sebuah ayat.

Erti dan maksud mengintip ialah bila seseorang itu, tiada membiarkan hamba-hamba Allah terlindung di bawah naunganNya, maka ia merasa kurang senang selagi tiada mengetahui isi perutnya, dan cuba membuka tutup naungan Allah daripada orang itu, sehingga terbongkar segala rahsianya. Padahal jika dibiarkan tertutup, lebih baik dan lebih selamat bagi hatinya dan agamanya.

Sebelum telah kita terangkan hukum, mengintip dan hakikiatnya di dalam kitab amar mar’uf nahi mungkar, sila rujuk kepadanya lagi.

Sebab-sebab yang membolehkan mengumpat

Ketahuilah bahawasanya jika tiada jalan lain untuk mencapai sesutau tujuan yang betul menurut yang dibenarkan oleh syariat Islam, melainkan dengan menyebut-nyebut keburukan-keburukan orang lain, maka dalam hal yang seumpama ini dibenarkan mengumpat, dan hukumnya tidak berdosa sama sekali.

Mengumpat dibenarkan dalam beberapa perkara saja, iaitu:

1. Bila berlaku penganiayaan, seperti seorang yang terzalim mengadukan kezaliman seseorang kepada hakim, agar hakim dapat mengembalikan haknya daripada orang yang menzaliminya. Dalam hal serupa ini, tidak mungkin jelas perkaranya, melainkan dengan menyebut dan menerangkan keburukan-keburukan si zalim itu untuk membuktikan kezalimannya
Rasulullah s.a.w. telah bersabda:“Sesungguhnya orang yang mempunyai hak itu, boleh mengucapkan alasan.”
Sabdanya lagi: “Menahan hak orang adalah suatu penganiayaan bagi orang kaya.”
2. Meminta bantuan orang lain untuk mengubah sesuatu kemungkaran dari seseorang atau mengembalikan seorang ashi (derhaka) ke jalan kebaikan.

3. Ketika meminta fatwa atau penerangan sesuatu hukum dalam agama. Misalnya ia berkata kepada Tuan Mufti: Ayah saya telah menganiaya saya, ataupun isteri saya atau saudara saya telah menzalimi saya. Dikatakan begitu setelah terlebih dulu mengatakan secara sindiran atau dengan membuat alasan-alasan, tetapi Tuan Mufti masih belum faham. Ketika itu barulah dikatakan dengan terang-terangan.
Hal ini berdasarkan kepada suatu riwayat dari Hindun binti Utbah, bahwasanya ia telah mengadu kepada Rasulullah s.a.w.: Bahawasanya Abu Sufyan itu (suaminya) adalah seorang yang amat pelokek. Ia tiada memberiku untuk keperluanku dan keperluan anakku dengan secukup-cukupnya. Maka sabda Rasulullah s.a.w.: Ambillah apa yang cukup untuk keperluanmu dan keperluan anakmu secara adil.
Dalam peristiwa di atas, Hindun telah menyatakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang kekikiran suaminya dan ketidak-adilannya terhadapa dirinya dan anaknya dalam persoalan nafkah. Nabi tidak melarangnya dari berkata begitu, sebab maksud Hindun ialah bertanyakan hukum.

4. Mengingatkan seseorang Muslim kepada sesuatu kejahatan. Misalnya: Jika anda mengetahui sesorang itu jahat, lalu anda mengingatkan orang lain supaya menjauhkan diri dari orang itu. Ataupun orang yang cuba membuktikan dirinya benar di hadapan pun orang yang diminta fikirannya dalam perkahwinan, lalu ia menyebut keburukan orang yang meminang. Ataupun menyatakan keaiban seseorang, agar amanat tiada diserahkan kepadanya atau seumpamanya dengan menyatakan apa-apa yang diketahuinya dengan benar atas tujuan menasihat, bukan kerana memburuk-burukkan atau menjatuhkan namanya di hadapan orang lain.

5. Bila seseorang itu terkenal dengan sesuatu gelaran atau panggilan yang memang menunjukkan sesuatu kekurangan pada dirinya, seperti mengatakan si fulan yang tempang atau yang buta. Maka dalam hal serupa ini, tiadalah dilarang menyebutkannya, kerana itu mustahak disebutkan supaya orang mengenalinya. Begitu juga sebab panggilan itu sudah menjadi kebiasaan, orang yang berkenaan tidak mungkin marah lagi, kerana ia telah termasyhur dengan gelaran itu. Walau bagaimanapun, sekiranya dapat diubah dengan gelaran lain, atau panggilan yang lebih baik, dan senang pula disebarkan kepada orang ramai, maka itulah yang lebih dan senang pula disebarkan kepada orang ramai, maka itulah yang lebih baik dan utama. Oleh kerana itu pernah orang buta dipanggil dan digelar dengan si celik untuk menghindarkannya dari sifat kekurangan itu.
6. Bila seseorang itu memang sengaja terang-terang membuat kefasikan dan bermegah-megah dengan perbuatan itu, maka terhadap orang ini tidaklah terlarang lagi melemparkan ghibah atau pengumpatan, disebabkan kelakuannya yang menentang itu.

Kaffarah (denda) ghibah

Ketahuilah bahwasanya menjadi wajib atas seseorang pengumpat agar menyatakan sesalan atas kelakuannya yang salah itu, kemudian segera bertaubat dan merasa sedih dan dukacita atas perbuatannya, supaya ia terselamat dari balasan Allah Ta’ala. Sesudah itu hendaklah ia meminta maaf dari orang yang diumpatnya, serta menghalalkan perbuatannya itu, supaya ia terlepas dari dosa ghibahnya. Ini jika ia mampu melakukannya dan tidak takut berlaku sesuatu bahaya.

Al-Hasan berkata: Cukuplah si pengumpat itu beristighfar atau meminta ampun kepada Allah Ta’ala dan tak payah lagi minta dihalalkan perbuatannya dari orang yang diumpatnya itu.

Dalam sebuah Hadis Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adakah kamu sekalian tidak mampu berbuat seperti yang dibuat oleh Abu Dhamdham. Selalu bila ia keluar dari rumah, ia berdoa: Ya Allah! Ya Tuhanku! Saksikanlah bahwasanya aku telah mensedekahkan kehormatanku kepada orang ramai.”

Maksudnya, ia tidak akan menuntut balasan atas sesiapa yang melakukan penganiayaan ke atas dirinya di hari Kiamat, dan tidak akan membuat pengaduan lagi ke sana. Dan bukanlah tujuan dari kata-kata Abu Dhandham ini membolehkan seseorang mengumpat orang lain dengan sesuka hati, tetapi maksudnya ialah ia telah memaafkan dosa orang yang mengumpatnya.

Allah telah berfirman: “Berikanlah pengampunan dan suruhlah dengan kebaikan serta hindarkanlah dirimu dari orang yang bodoh itu.” (al-A’raf: 199)

Dalam sebuah hadis pula, disebutkan bahwasanya Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhya Allah Ta’ala memerintahmu, agar engkau memaafkan orang yang menganiyaimu dan menyambung perhubungan dengan orang yang telah memutuskan perhubungan dengan mu, serta memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu.”

Petikan dari KITAB BIMBINGAN MUKMIN - Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali

Thursday, September 10, 2009

Lailatul Qadar ( Malam Kemuliaan dan Kebesaran)

Khamis, 20 Ramadhan 1430H - Allah SWT berfirman yang ertinya : “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan ( Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu ?. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Robnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar " ( Al Qadr: 1 – 5 )

Keterangan:

Di antara malam-malam Ramadhan terdapat suatu malam yang dikenali sebagai “Lailatul Qadar” suatu malam yang terkenal kerana mempunyai keberkatan yang teramat besar. Di dalam Al Quran dinyatakan sebagai mempunyai keberkatan dan kelebihan ke rohaniah yang lebih besar daripada seribu bulan yang membawa maksud bahawa ia lebih bernilai daripada lapan puluh tiga tahun empat bulan. Rasulullah SAW bersabda : “Lailatul Qadar telah dikurniakan ke atas umatku dan tidak kepada lain-lain umat.” Sebab-sebab pengurniaan Lailatul Qadar ini banyak pendapat mengenainya. Menurut beberapa hadis, satu sebab diberikan malam ini kerana Rasulullah SAW pernah memikirkan tentang umur-umur umat terdahulu yang panjang-panjang dan apabila dibandingkan dengan keadaan umur pendek umatnya, maka baginda pun sangat berdukacita. Jika umat ini ingin berlumba dalam kesolehan dengan umat-umat terdahulu maka mustahil mereka dapat bersaing atau mengatasinya. Maka dengan rahmat Allah SWT, dikurniakan malam yang dipenuhi keberkatan ini.

Riwayat lain menyatakan bahawa suatu ketika Rasulullah SAW menceritakan kepada para sahabat tentang seorang yang sangat soleh dikalangan Bani Israil yang telah menghabiskan masanya di dalam jihad selama seribu bulan. Apabila mendengar cerita tersebut, para sahabat berasa cemburu kerana mereka tidak dapat mencapai ganjaran yang sama. Maka Allah SWT pun menganugerahkan malam Lailatul Qadar, melalui firman Allah SWT dalam surah Al Qadr.

Anas ra. meriwayatkan: Apabila Ramadhan bermula, maka Raslullah SAW pun bersabda: "Sesungguhnya telah datang kepadamu suatu bulan yang terdapat di dalamnya satu malam yang terlebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang ditolak daripada malam ini sesungguhnya ternafilah dia daripada segala kebaikannya. Dan tidaklah yang ditolak daripada kebaikan itu kecuali yang benar-benar tidak bernasib baik.”

Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berdiri ( dengan solat dan beribadat) pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisab (Yakni dengan keyakinan yang sempurna dan harapan yang ikhlas untuk memperolehi ganjarannya ) maka dosa-dosa yang lepas akan diampunkan.” Kita hendaklah mempunyai azam yang kuat untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar ini dengan memperbanyakkan amalan ibadat sepanjang bulan Ramdahan dan tambahkan pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan dengan amalan-amalan solat, zikir, tilawah dan sebagainya dengan keimanan serta yakin dan ikhlas kerana Allah.

Anas ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda : “Pada malam kemuliaan ( Lailatul Qadar) maka turunlah Jibril as. ke dunia dengan sekumpulan malaikat, lalu berdoa memohon rahmat ke atas setiap hamba Allah yang mereka lihat sedang beribadat, berdiri atau duduk sambil berzikir kepada Allah. Kemudian pada hari Aidil Fitri Allah berbangga mengenai mereka kepada malikat-malaikat ( yang pernah mempersoalkan penciptaan Adam dahulu ). “Wahai malaikat-malaikatKU apa ganjaran bagi orang yang telah menyermpurnakan kerjanya dengan baik?” Mereka pun menjawab: “ Wahai Allah, selayaknya ganjaran yang penuh diberikan kepadanya.” Maka Allah menjawab: “Wahai malaikat-malaikatKu, sesungguhnya hamba-hambaKU ini, lelaki dan wanita telah menyempurnakan kewajipan yang telah difardhukan ke atas mereka, kemudian mereka pun keluar menuju ke kawasan solat Aidilfitri meninggikan suara mereka berdoa kepadaKU. Aku bersumpah demi kemuliaan Ku, kemegahanKu, kehormatanKu, ketinggianKu dan tempatKu yang tertinggi,pasti akan Aku makbulkan doa orang-orang ini. “ Kemudian Allah pun berfirman: “Kembalilah kamu sekelian, Aku telah ampunkan dosa-dosa kamu, dan menggantikan perbuatan-perbuatan maksiatmu dengan kebaikan (hasanah).” Orang-orang ini pun kembali dengan pengampunan terhadap dosa-dosa mereka.

Aisyah ra. meriwayatkan: “Aku berkata : “Wahai Rasulullah SAW sekiranya aku bertemu dengan Lailatul Qadar, apakah doa yang perlu ku baca?" Rasulullah SAW bersabda : “Katakanlah : “ Ya, Allah sesungguhnya Engkaulah yang mengurniakan keampunan terhadap dosa-dosaku, Engkau suka mengampun, maka ampunilah aku. “

Tentang masa turunnya malam yang istimewa ini, terdapat kira-kira lima puluh pendapat yang berbeza-beza. Aisyah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “ Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan.” Menurut sebahagian besar ulama, sepuluh malam terakhir itu bermula daripada malam yang ke 21. Tidak kiralah sama ada Ramadhan itu mengandungi 29 hari atau 30 hari. Maka jika seseorang ingin mencari Lailatul Qadar maka carilah malam 21, 23, 25, 27 dan 29. Rasulullah SAW beriktikaf bermula pada malam yang ke – 21 Ramadhan. Berdasarkan itu, ulama-ulama berpendapat bahawa malam-malam ganjil adalah malam yang sesuai untuk Lailatul Qadar.

Ubadah bin Saamit ra berkata: “ Suatu ketika Rasulullah SAW keluar untuk memberitahu kami mengenai Lailatul Qadar ( tentang tarikh yang tepat). Malangnya perbalahan telah berlaku antara dua orang Islam, sesudah itu baginda bersabda:”Aku keluar untuk memberitahu kamu bilakan muncul Lailatul Qadar tetapi disebabkan dua orang berbalah, pengetahuan tarikh yang sebenar telah ditarik semula; mungkin itu terlebih baik, maka carilah pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima.” Hadis ini memberi pengajaran bahawa akibat perbalahan mengakibatkan kehilangan rahmat hingga pengetahuan sebenar penetapan Lailatul Qadar hilang lenyap.

Ubadah bin Samit ra. meriwayatkan bahawa beliau telah bertanya Rasulullah SAW mengenai Lailatul Qadar. Baginda menjawab: “Ia terdapat pada bulan Ramadhan, pada sepuluh yang terakhir pada malam-malam yang ganjil samada malam ke 21, ke 23, ke 25, ke 27, ke 29 dan malam terakhir Ramadhan. Sesiapa sahaja yang berjaga malam untuk beribadat dengan iman dan ihtrisab ( dengan keadaan iman yang ikhlas ingin memperolehi ganjaran ) maka terampunlah segala dosa-dosanya yang lampau. Diantara tanda-tanda pada malam ini ialah malam tersebut berkeadaan sunyi sepi penuh ketenangan serta bercahaya, tidak panas dan tidak sejuk tetapi sederhana seolah-olah bulan memancar terang. Pada malam itu panah-panah api tidak kelihatan memanah syaitan-syaitan. Keadaan ini tetap berkeadaan begitu sehinggalah munculnya Subuh. Tanda-tanda yang lain ialah pada waktu pagi, matahari akan naik tanpa pancaran cahaya, muncul seolah-olah seperti bulan mengambang penuh. Pada hari itu Allah mengharamkan syaitan naik bersama-sama matahari.”

Marilah kita bersama-sama berazam untuk mempertingkatkan amalan ibadat kita dan menjauhkan perkara yang ditegah oleh Allah dan RasulNya di sepanjang bulan Ramadhan ini. Mudah-mudahan Allah akan temukan kita dengan malam Lailatul Qadar yang penuh rahmat dan berkat ini. Amin

Wallahu a’lam

(Dipetik daripada buku Fadhilat Ramadhan )

Wednesday, September 9, 2009

Beritikaf Dalam Mencari Lailatul Qadar

Rabu, 19 Ramadhan 1430H - Iktikaf bermaksud bertafakur dalam masjid mencari keredaan Allah S.W.T.

Jenis-jenis iktikaf -
Iktikaf yang disyariatkan ada dua bentuk;
1. Iktikaf sunnat iaitu yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk bertaqorrub kepada
Allah SWT seperti; iktikaf 10 hari terakhir bulan Ramadan.
2. Iktikaf yang wajib iaitu yang didahului dengan nazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT
menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan beriktikaf.

Waktu iktikaf - Iktikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinazarkan, sedangkan iktikaf sunat tidak ada batasan waktu tertentu, bila-bila saja pada malam atau siang hari, waktunya boleh lama atau singkat. Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk beriktikaf."

Syarat-syarat iktikaf
1. Muslim
2. Berakal
3. Suci dari janabah (junub), haid dan nifas.

Oleh kerana itu, iktikaf tidak sah bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz (mampu membezakan), orang junub, wanita haid dan nifas.
Rukun-rukun iktikaf
1. Niat (QS. Al Bayyinah : 5), (HR: Bukhari & Muslim tentang niat)
2. Berdiam di masjid (QS. Al Baqarah : 187)
Di sini ada dua pendapat ulama tentang masjid tempat iktikaf. Sebahagian ulama membolehkan iktikaf di setiap masjid yang diguna untuk solat berjemaah lima waktu. Hal itu dalam rangka menghindari seringnya keluar masjid dan untuk menjaga pelaksanaan solat jemaah setiap waktu.
Ulama lain mensyaratkan agar iktikaf itu dilaksanakan di masjid yang diguna untuk membuat solat Jumaat, sehingga orang yang beriktikaf tidak perlu meninggalkan tempat iktikafnya menuju masjid lain untuk solat Jumaat.
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafiiyah bahawa yang afdal iaitu iktikaf di masjid jami', kerana Rasulullah s.a.w iktikaf di masjid jami'. Lebih afdal di tiga masjid; Masjid al-Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Aqsa.

Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif (orang yang beriktikaf)
1. Keluar dari tempat iktikaf untuk menghantar isteri, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah s.a.w terhadap isterinya Sofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)
2. Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan
bau badan.
3. Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecil,
makan, minum (jika tidak ada yang menghantarkannya), dan segala sesuatu yang tidak
mungkin dilakukan di masjid, tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan
keperluannya .
4. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan sentiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.
Hal-hal yang membatalkan iktikaf
1. Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan walaupun sebentar, kerana
meninggalkan salah satu rukun iktikaf iaitu berdiam di masjid.
2. Murtad ( keluar dari agama Islam )
3. Hilangnya akal, kerana gila atau mabuk
4. Haid atau Nifas
5. Berjimak (bersetubuh dengan isteri) (QS. 2: 187), akan tetapi memegang tanpa syahwat, tidak
apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan isteri- isterinya.
6. Pergi solat Jumaat (bagi mereka yang membolehkan iktikaf di surau yang tidak digunapakai
untuk solat Jumaat).

Rasulullah SAW beriktikaf di dalam mencari Lailatul Qadar
Abu Said Al Khudri ra: meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW beriktikaf didalam sebuah khemah (dalam masjid) pada sepuluh hari yang pertama bulan Ramadhan. Kemudian dilanjutkan pada hari sepuluh hari yang pertengahan. Kemudian baginda akan menjenguk kepalanya keluar khemah sambil berkata: “ Sesungguhnya takkala mencari Lailatul Qadar aku beritikaf pada sepuluh hari pertama dan menyambungnya kesepuluh hari yang pertengahan untuk maksud yang sama. Kemudian aku beritahu bahawa malam ini (Lailatul Qadar) terdapat pada sepuluh hari yang terakhir.

Maka mereka yang menyertaiku hendaklah terus beriktikaf. Sesungguhnya hampir sahaja aku ditunjukkan malam tersebut namum aku telah dilupakan malam yang mana satu. Dan sesungguhnya aku melihat diriku sujud kepada Allah dengan dahi di dalam lumpur pada pagi hari selepas daripada malam tersebut. Dengan ini carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam Ramadhan yang terakhir. Carilah pada malam-malam ganjil. ”Abu Said ra berkata : " Malam yang sama hujan pun turun. Atas masjid bocor dan aku lihat Rasulullah SAW sedang sujud di dalam lumpur, dan kejadian itu berlaku pada pagi malam yang ke 21.”

Aisyah ra meriwayatkan: "Semasa sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengikat kain sarungnya seketat-ketatnya, berjaga setiap malam dan menggerakkan keluarganya untuk beribadat.” Mengikat kain seketat-ketat dimaksudkan sebagai tanda baginda tidak membataskan diri dalam mengerahkan tenaganya ketika beribadat atau baginda menjauhkan sama sekali segala bentuk hubungan kelamin dengan isteri-isterinya.

Ibn Abbas ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda : "Orang yang beriktikaf akan terbebas daripada dosa-dosanya dan sesungguhnya dia akan diberikan ganjaran yang sama sebagaimana mereka yang berbuat kebaikan atau hasanat (disebabkan dia beriktikaf)”.

Ibn Abbas ra meriwayatkan bahawa suatu ketika tatkala beliau sedang beriktikaf di dalam masjid Nabawi, sesorang telah datang menemuinya sambil memberi salam lantas duduk. Ibn Abbas ra lalu bercakap kepadanya: "Aku lihat kamu dalam keadaan sedih dan berdukacita” Orang itu menjawab: "Ya, wahai anak kepada bapa saudara Rasulullah SAW (sepupu) sesungguhnya aku mempunyai hak yang perlu dipenuhi. Aku bersumpah dengan penghuni kubur yang mulia ini (Rasulullah SAW) bahawa aku tidak dapat menyempurnakan hak tersebut.” Ibn Abbas menjawab : "Bolehkah aku menjadi perantara bagi pihak mu?”. Ibn Abbas ra pun memakai kasutnya dan keluar daripada masjid. Melihat ini orang itu pun berkata: ”Lupakah tuan bahawa tuan sedang beriktikaf ?” Matanya digenangi airmata, lalu Ibn Abbas pun berkata: Tidak, peristiwa itu masih terbayang-bayang di ruang mataku apabila penghuni yang mulia ini bersabda: "Barangsiapa bergerak dengan maksud mahu menyelesaikan suatu urusan (hajat) saudaranya maka itu adalah terlebih baik daripada dia beritikaf selama sepuluh tahun. Barangsiapa beritikaf satu hari (kerana mencari keredahaan Allah ) maka di antaranya dan api neraka ialah tiga parit (khandak) yang setiap parit itu sejauh antara langit dan bumi.”

Tuesday, September 8, 2009

Peristiwa-Peristiwa di Bulan Ramadhan

Selasa, 18 Ramadhan 1430H - Selain turunnya wahyu Allah yang pertama di bulan Ramadhan, terdapat beberapa peristiwa besar yang juga berlaku dibulan yang penuh dengan barakah ini. Ketika dahulu, umat Islam yang merupakan umat yang disanjung tinggi dari timur ke barat, kerana terlimpahnya rahmat Allah kesan dari penerapan Islam dalam kehidupan mereka. Namun begitu, pada masa sekarang, setelah runtuhnya entiti penyatuan umat Islam, iaitu Khilafah pada 27 Rejab 1342H (3 Mac 1924), umat Islam dirundung penyakit yang semakin parah. Semoga Ramadhan kali ini merupakan Ramadhan terakhir bagi umat Islam berpuasa tanpa Khilafah.
Berikut merupakan peristiwa-peristiwa yang berlaku pada bulan Ramadhan:
17 Ramadhan 2H
Perang Badar Al-Kubra Rasulullah SAW berangkat dari Madinah pada 8 Ramadhan. Ibnu Hisyam menyatakan bahawa perang ini merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan umat Islam dalam menghadapi kekuatan kemusyrikan dan kebatilan. Allah SWT telah mengutuskan segerombolan malaikat untuk membantu pasukan muslimin menghancurkan pasukan musyrik. Perang ini berlaku pada pagi Jumaat, 17 Ramadhan 2H di Badar. Kemenangan lebih kurang 300 orang tentera Islam di bawah pimpinan Rasulullah ini yang telah mengalahkan lebih kurang 1000 orang tentera musyrikin Mekah.
Ramadhan 5H
Persiapan Perang Khandaq Persiapan dilakukan dengan mengali parit (khandaq) sekeliling kota Madinah. Tipu muslihat ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab. Ia diusulkan oleh Salman Al-Farisy. Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulkaedah setelah pasukan muslimin berjaya memecahkan belahkan pasukan musuh.
20 Ramadhan 8H
Futuhul Makkah (Pembukaan Kota Mekah) dan Penghancuran Berhala Rasulullah SAW keluar dari Madinah pada 10 Ramadhan dan berpuasa, lalu diikuti para sahabat. Baginda berbuka di suatu tempat yang dipanggil Mukadid (antara Asfan dengan Amjad). Mekah jatuh ke tangan kaum muslimin tanpa pertumpahan darah. Setelah penaklukan Mekah, Rasulullah tinggal di kota itu selama 15 malam dengan melakukan sembahyang qasar. Menurut Ibnu Ishaq, penaklukan itu terjadi pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Rasulullah mengutuskan Khalid al-Walid untuk menghancurkan berhala Uzza, Amr bin Ash merobohkan Suwa’, dan Saad bin Zaid Al-Asyhaly menumbangkan Manat.
Ramadhan 9H
Perang TabukRasulullah SAW tidak mendapati tentera Rom lalu kembali ke Madinah.Utusan ThaifUtusan Thaif datang ke Madinah untuk masuk Islam dan pada ketika itu juga mereka terus melaksanakan kewajiban-kewajiban dan melaksanakan puasa disana.Utusan Raja Himyar Utusan Raja Himyar datang ke Madinah untuk menyatakan kemasukan Islam. Rombongan tersebut diterima dan dimuliakan oleh Rasulullah SAW. Beliau kemudian menulis batas-batas hak dan kewajiban mereka dalam bentuk dokumen bertulis.
Ramadhan 10H
Rasulullah SAW mengutuskan sepasukan tentera dibawah pimpinan Saidina Ali Karamallahu wajhah ke Yaman dengan membawa surat Nabi. Satu suku kaum yang berpengaruh di Yaman terus menerima Islam dan masuk Islam pada hari itu juga. Mereka bersembahyang berjamaah bersama Imam Ali ra. pada hari itu.
Ramadhan 53H
Kemenangan tentera Islam di Rhodesia.
Ramadhan 92H
Islam telah tersebar dan membuka kawasan- kawasan baru sehingga ke Afrika Utara, Iran, Afghanistan, Yemen dan Syria. Spanyol di bawah kekuasaan Raja Rhoderic of the Visigoths. Musa ibn Husair, Wali Khilafah Ummayyah di Utara Afrika, bersama-sama dengan Paglima tentera Islam, Tariq Ziyad yang megetuai 12 000 tentera Islam berdepan dengan tentera kuffar seramai 90 000 yang diketuai sendiri oleh Raja Rhoderic. Antara peristiwa yang memotivasikan tentera- tentera Allah ini semasa perang ini ialah, apabila Tariq bin Ziyad mengarahkan tenteranya membakarkan kapal- kapal perang mereka sebelum bertempur dengan tentera Raja Rhoderic. Beliau berkata, ”Sesungguhnya, syurga Allah terbentang luas di hadapan kita, dan dibelakang kita terbentangnya laut. Kamu semua hanya ada dua pilihan, sama ada mati lemas, ataupun syahid”. Pasukan tentera ini bukan sahaja telah mengalahkan tentera-tentera kuffar pimpinan Raja Rhoderic, malah telah mampu membebaskan keseluruhan Sepanyol, Sicily dan sebahagian Perancis. Di sini, bermulanya zaman keemasan Islam di Andalus, dengan Islam menguasainya selama 700 tahun.
Ramadhan 129H
Kemenangan dakwah Bani Abbas di Khurasan dibawah pimpinan Abu Muslim Al-Khurasany.
Ramadhan 584H
Panglima tentera Islam, Salahuddin Al-Ayyubi mendapat kemenangan besar ke atas tentera Salib. Tentera Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai oleh tentera Salib. Ketika bulan Ramadhan, penasihat-penasihat Salahuddin menyarankan agar dia berehat kerana risau ajalnya tiba. Tetapi Salahuddin menjawab "Umur itu pendek dan ajal itu sentiasa mengancam". Kemudian tentera Islam yang dipimpinnya terus berperang dan berjaya merampas Benteng Shafad yang kuat. Peristiwa ini berlaku pada pertengahan bulan Ramadhan.
Ramadhan 658H
Semasa kemasukan tentera tartar di Baghdad, yang merupakan pusat pemerintahan Islam pada masa tersebut, tentera Tartar telah membunuh 1.8 juta kaum Muslimin. Selain itu, mereka mengarahkan penduduk Kristian supaya makan babi dan meminum arak secara terbuka dijalanan dan memaksa kaum muslimin turut serta. Azan turut dilarang daripada dilaungkan dan masjid- masjid disirami dengan arak oleh tentera- tentera Tartar yang biadap ini. Kecelakaan ini disambut oleh Saifudin Qutuz, pemerintah Mesir ketika itu dengan mengumpulkan semula kekuatan kaum muslimin untuk meghancurkan tentera Tartar dan bertembung dengan mereka pada Jumaat, 25 Ramadhan 658H di Ain Jalut. Peperangan ini turut disertai oleh isteri Sultan Saifudin Qutuz, Jullanar yang akhirnya syahid di medan pertempuran. Semasa beliau nazak, Saifudin Qutuz memapahnya dan berkata ”Wahai Kekasihku”. Ini dibalas oleh Jullanah dengan mengatakan, ”Janganlah kamu berkata demikian. Kasih lagilah kamu terhadap Islam”. Setelah itu, tentera- tentera ini terus berjihad, dan kemenangan di raih oleh Islam di depan pintu gerbang Mesir di Kota Ain Jalut.

Monday, September 7, 2009

Al-Quran Kalam Allah Yang Agong

Isnin, 17 Ramadhan 1430H - Al-Qur'an, dalam bahasa Arab Ù‚ُرْآن adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam mempercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang ertinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)
Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”.Melihat ayat AlQuran juga akan diberi pahala.
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"
Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an.
Dalam Al-Qur'an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur'an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:
Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2)
Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1)
Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9)
Al-Mau'idhah (pelajaran/nasehat): QS(10:57)
Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37)
Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39)
Asy-Syifa' (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82)
Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33)
At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)
Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77)
Ar-Ruh (ruh): QS(42:52)
Al-Bayan (penerang): QS(3:138)
Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6)
Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102)
An-Nur (cahaya): QS(4:174)
Al-Basha'ir (pedoman): QS(45:20)
Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52)
Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

Surat, ayat dan ruku'
Al-Qur'an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat). Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al Kautsar dan Al-‘AÈ™r. Jumlah ayat dalam Al-Qur'an mencapai 6236 ayat di mana jumlah ini dapat bervariasi menurut pendapat tertentu namun bukan disebabkan perbedaan isi melainkan karena cara/aturan menghitung yang diterapkan. Surat-surat yang panjang terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik tertentu.

Makkiyah dan Madaniyah
Setiap surat dapat dibagi atas surat-surat Makkiyah (surat Mekkah) dan Madaniyah (surat Madinah). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat-surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah. Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat,sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah.
Juz dan manzil
Dalam skema pembagian lain, Al-Qur'an juga terbagi menjadi 30 bagian dengan panjang sama yang dikenal dengan nama juz. Pembagian ini untuk memudahkan mereka yang ingin menuntaskan bacaan Al-Qur'an dalam 30 hari (satu bulan). Pembagian lain yakni manzil memecah Al-Qur'an menjadi 7 bagian dengan tujuan penyelesaian bacaan dalam 7 hari (satu minggu). Kedua jenis pembagian ini tidak memiliki hubungan dengan pembagian subyek bahasan tertentu.

Menurut ukuran surat
Kemudian dari segi panjang-pendeknya, surat-surat yang ada didalam Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
As Sab’uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Yaitu Surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa’, Al-A’raaf, Al-An’aam, Al Maa-idah dan Yunus
Al Miuun (seratus ayat lebih), seperti Hud, Yusuf, Mu'min dan sebagainya
Al Matsaani (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr dan sebagainya
Al Mufashshal (surat-surat pendek), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan
sebagainya.

Sejarah Al-Qur'an hingga berbentuk mushaf
Penurunan Al-Qur'an
Dipercayai oleh umat Islam bahwa penurunan Al-Qur'an terjadi secara beransur-ansur selama 23 tahun. Oleh para ulama membagi masa turun ini dibagi menjadi 2 fasa, iaitu fasa Mekkah dan fasa Madinah. Fasa Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian Rasulullah SAW dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan fasa Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah.

Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya
Penulisan (pencatatan dalam bentuk teks) Al-Qur'an sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kemudian transformasinya menjadi teks yang dijumpai saat ini selesai dilakukan pada zaman khalifah Utsman bin Affan.

Pengumpulan Al-Qur'an di masa Rasullulah SAW
Pada masa ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, terdapat beberapa orang yang ditunjuk untuk menuliskan Al Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab. Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.

Pengumpulan Al-Qur'an di masa Khulafaur Rasyidin
Pada masa pemerintahan Abu Bakar
Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama perang Ridda) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan. Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar. Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafsah yang juga istri Nabi Muhammad SAW.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan
Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standarisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam di masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an.

Mengutip hadist riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih:
Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman. Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain. Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'."

Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat. Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraish tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka. Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, ia mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan sebuah ditahan di Madinah (mushaf al-Imam).

Upaya penerjemahan dan penafsiran Al Qur'an
Usaha untuk mengetahui isi dan maksud Al Qur'an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa. Namun demikian hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi atau menggantikan teks yang asli dalam bahasa Arab. Kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidak sama dengan Al-Qur'an itu sendiri.
Adab Terhadap Al-Qur'an
Sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur'an, seorang Muslim dianjurkan untuk menyucikan dirinya terlebih dahulu dengan berwudhu. Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surat Al Waaqi'ah ayat 77 hingga 79. Terjemahannya antara lain:56-77. Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, 56-78. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), 56-79. tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (56:77-56:79)
Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur'an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al Qur'an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk majoriti Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.

Hubungan dengan kitab-kitab lain
Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:
Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab
tersebut. QS(2:4)
Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab
sebelumnya. QS(5:48)
Bahwa Al-Qur'an menjadi rujukan untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara
ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)
Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik oleh
AlQuran mempunyai fadihlat yang banyak dan Allah SWT memberi ganjaran yang amat besar kepada pembaca dan mematuhinya arahan di dalam Al Quran itu adalah wajib bagi setiap yang mengaku dirinya Islam.

Waallahualam.

Friday, September 4, 2009

Malam Lailatul-Qadar

Jumaat, 14 Ramadhan 1430H - Malam Lailatul-Qadar sunat dicari, kerana malam ini merupakan suatu malam yang diberkati serta mempunyai kelebihan dan diperkenankan doa oleh Allah S.W.T. Malam Lailatul-Qadar adalah sebaik-baik malam mengatasi semua malam termasuk malam Jumaat. Allah S.W.T. berfirman dalam Surah Al-Qadr 97: Ayat 3.
Maksudnya: " Malam Lailatul - Qadar lebih baik daripada seribu malam "

Ertinya menghidupkan malam Lailatul-Qadar dengan mengerjakan ibadah adalah lebih baik daripada beribadah pada seribu bulan yang tidak ada Lailatul-Qadar seperti sabda Nabi s.a.w.:
Maksudnya: " Sesiapa menghidupkan malam Lailatul-Qadar kerana beriman serta mencari pahala yang dijanjikan akan mendapat pengampunan daripada dosa-dosa yang telah lalu "

Diriwayatkan daripada Saiyidatina Aisyah r.a bahawa Rasulullah s.a.w. apabila tiba 10 hari terakhir bulan ramadhan, Baginda menghidupkan malam-malamnya dengan membangunkan isi rumah dan menjauhi daripada isteri-isterinya. Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan:
Maksudnya: " Rasulullah s.a.w. berusaha sedaya upaya dalam malam-malam sepuluh akhir Ramadhan melebihi usahanya daripada malam-malam lain. "

Malam Lailatul-Qadar berlaku pada 10 akhir daripada malam ganjil bulan Ramadhan. Rasulullah s.a.w. bersabda: Maksudnya: " Carilah malam Lailatul-Qadar pada sepuluh akhir bulan Ramadhan dalam malam ganjil. "

Pendapat yang terkuat mengikut para ulama' bahawa malam Lailatul Qadar terkena pada malam 27 Ramadhan. Menurut Abu Ka'ab katanya, "Demi Allah sesungguhnya ibn Mas'ud telah meyakinkan bahawa malam Lailatul-Qadar jatuh dalam bulan Ramadhan manakala Lailatul-Qadar pula terjatuh pada malam 27, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami (malam yang tepat) kerana bimbangkan kamu tidak lagi berusaha mencarinya." Daripada Riwayat Mu'awiyah: Maksudnya: " Bahawa Nabi Muhammad s.a.w telah bersabda dalam malam lailatul-qadar iaitu malam ke-27. "

Riwayat ini disokong oleh pendapat Ibn Abbas yang mengatakan bahawa surah Al-Qadr mempunyai 30 perkataan. Perkataan yang ke-27 bagi surah itu terjatuh kepada dhamir(hia) yang kembalinya kepada Lailatul-Qadar.

Imam Ahmad telah meriwayatkan sebuah Hadith daripada Ibn Umar r.a yang berbunyi:
Maksudnya: " Sesiapa yang mencari Lailatul-Qadar , dia hendaklah mencarinya pada malam
yang ke-27, carilah kamu malam Lailatul-Qadar pada malam yang ke-27. "

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah, katanya, "Ya Rasulullah s.a.w. andainya aku mendapati
malam Lailatul-Qadar, apakah doa yang patut aku bacakan? Rasulullah s.a.w. berdoa dengan doa: Maksudnya: " Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, oleh itu berilah keampunan-Mu untukku. "

Petikan dari : FIQH & Perundangan Islam Jilid II Wahbah al-ZuhailiTerbitan Dewan Bahasa dan Pustaka.

Thursday, September 3, 2009

Berdosa Meninggalkan Puasa Ramadhan

Khamis, 13 Ramadhan 1430H- Abu Hurairah ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa berbuka satu hari di siang hari bulan Ramadhan tanpa alasan yang wajar (disegi syariah) atau sakit yang kuat tidak akan dapat menampung atau mengganti hari tersebut walaupun akan berpuasa sehingga ke akhir hayatnya”

Penjelasan:

Pendapat sebahagian ulamak ialah apabila sesorang itu gagal menjalani puasanya pada mana-mana hari pada bulan Ramadhan tanpa alasan yang wajar dan tidak menghormatinya dengan makan dan sebagainya, dia tidak akan dapat menggantinya dengan mengqadhakannya walaupun dia berpuasa sehingga ke akhir hayatnya.Sadina Ali berpendapat begini. Walau bagaimanapun Jumhur Ulamak berpegang kepada pendapat jikalau seseorang itu tidak berpuasa sehari pada bulan Ramadhan maka menggantikannya sudah memadai.

Sebaliknya jika seseorang itu mula berpuasa dan berbuka dengan sengaja tanpa alasan yang wajar, maka menurut syariat dia terpaksa berpuasa selama 60 hari berturur-turut dengan bersahur serta berbuka. Namun kelebihan yang terdapat dalam bulan Ramdhan tidak dapat diperolehinya. Inilah maksud daripada hadis di atas, yakni bila tidak berpuasa dimana-mana hari di bulan Ramadhan tanpa alasan, maka bilangan puasa yang diganti tidak akan dapat mengembalikan semula berkat sebenar yang terkandung dalam bulan Ramadhan.

Bertapa malang dan sesatnya mereka yang memandang remeh terhadap puasa dan tidak menunainya sama sekali di bulan Ramadhan atau menggantikannya selepas itu. Puasa merupakan salah satu daripada rukun Islam. Barangsiapa yang gagal melaksanakannya disertai dengan penolakan kewajipan terhadap puasa di bulan Ramadhan boleh menjadi kafir dan layak menerima azab Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :” Agama Islam tertegak di atas lima rukun: Iman, Solat,Puasa, Zakat dan Haji.” Penolakan salah satu daripada rukun yang lima boleh menyebabkan sesorang menjadi sesat dan kafir.

Wednesday, September 2, 2009

Jangan Sia-sia Amalan Puasa

Rabu, 12 Ramadhan 1430H - Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda:"Ramai daripada mereka yang berpuasa tidak memperolehi apa-apa melainkan lapar dan ramai yang berdiri malam (dengan bersolat) namun tidak mendapat apa-apa kecuali keletihan berjaga malam."
Keterangan :
Mengenai hadis ini para ulamak telah memyebut tiga penafsiran yang berbeza:
1. Hadis ini merujuk kepada mereka yang berpuasa pada siang hari tetapi berbuka dengan makanan yang haram. Segala ganjaran berpuasa lenyap kerana dos besar memakan benda yang haram dan suatu apa pun tidak mendatangkan manfaat kecuali lapar
2. Mungkin juga mereka berpuasa tetapi semasa berpuasa membabitkan diri mereka dengan mengumpat dan menfitnah orang lain.
3. Mungkin orang yang dimaksudkan ialah seorang yang sedang berpuasa tidak dapat mencegah dirinya daripada melakukan perkara-perkara maksiat dan dosa.
Kesemua kemungkinan-kemungkinan ini termasuk di dalam hadis ini. Begitulah juga halnya dengan seseorang yang berjaga malam dalam solat nafil sepanjang malam; kerana suka mengumpat atau lain-lain amalan dosa seperti terluput solat subuh atau berjaga malam untuk menunjuk-nunjuk, maka amalan malamnya menjadi sia-sia tidak diberi pahala oleh Allah SWT.
Hikmah & Fadhilat Ramadhan, M.Muhammd Zakariya

Tuesday, September 1, 2009

Nuzul Al-Quran

Selasa, 11 Ramadhan 1430H - FIRMAN Allah, maksudnya: “Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk, dan perbezaan (antara yang benar dan yang salah)...” (al-Baqarah: 185)
Penurunan al-Quran atau masyhur disebut nuzul al-Quran pada malam Jumaat, 17 Ramadan, tahun ke-41 daripada keputeraan Nabi Muhamad s.a.w peristiwa yang sangat besar dan tidak dilupakan generasi umat Islam. Nuzul bererti penurunan atau perpindahan dari atas ke bawah (turun) manakala al-Quran bererti bacaan atau himpunan. Ulama meletakkan takrif al-Quran sebagai kalam Allah yang diturunkan ke atas Nabi Muhammad s.a.w dengan perantaraan Jibril a.s serta menjadi ibadat dengan membacanya. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara membabitkan persoalan tauhid (ketuhanan), ibadat, jenayah, muamalat dan kemasyarakatan, sains teknologi dan banyak lagi.Al-Quran suatu mukjizat terbesar kepada Nabi Muhammad s.a.w yang abadi hingga hingga hari kiamat dan ia kitab yang sangat sempurna diturunkan sebagai manual kehidupan manusia di dunia, dengan tiada satu perkara pun yang dicuaikan atau tertinggal darinya.“Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam Kitab al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka.” (al-An’am: 38)Istilah penurunan ini dipanggil sebagai nuzul al-Quran yang membawa maksud amat mendalam, kerana al-Quran diturunkan dari tempat yang tinggi dan mulia iaitu Luh Mahfuz, kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w secara berperingkat mengikut keadaan dan keperluan semasa.Perantara bagi penurunan al-Quran kepada Nabi s.a.w ialah Jibril. Jangka masa penurunan itu selama 23 tahun, iaitu 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. “Dan sesungguhnya al-Quran (yang di antara isinya kisah tersebut) diturunkan Allah Tuhan sekalian alam. “Ia dibawa turun malaikat Jibril yang amanah. Ke dalam hatimu, supaya engkau (wahai Muhammad) menjadi seorang daripada pemberi ajaran dan amaran (kepada umat manusia). (Ia diturunkan) dengan bahasa Arab yang fasih serta terang nyata.” (asy-Syuarak:192-195)
Ayat al-Quran yang mula diturunkan Allah kepada baginda melalui perantaraan malaikat Jibril ialah lima ayat pertama daripada surah al-‘Alaq.Nabi s.a.w sentiasa dikunjungi Jibril pada Ramadan, seperti dijelaskan dalam hadis di bawah:“Daripada Ibnu Abbas r.a katanya, Rasulullah s.a.w seorang yang sangat pemurah kepada orang lain, lebih-lebih lagi pada bulan Ramadan ketika baginda didatangi Jibril a.s. Jibril datang berjumpa baginda pada setiap malam lalu mengajar al-Quran kepada baginda. Sesungguhnya baginda bersifat pemurah dengan segera melakukan kebaikan umpama angin yang bertiup kencang.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Al-Quran sebenar-benar wahyu yang diturunkan Allah dan ia bukan suatu rekaan Nabi Muhammad s.a.w seperti didakwa musuh yang sentiasa mencemburui Islam dan umatnya dari dulu hingga kini.Dakwaan itu nyata tidak benar sama sekali kerana gaya dan seni keindahan al-Quran tidak mampu direka atau ditandingi daya intelektual manusia.Allah ada mencabar manusia, malah jin menandingi kehebatan al-Quran, sekiranya mereka mampu berbuat demikian, tetapi mereka tidak mampu.“Katakanlah: Sesungguhnya jika sekalian manusia dan jin berhimpun dengan tujuan hendak membuat dan mendatangkan sebanding dengan al-Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat dan mendatangkan yang sebanding dengannya, walaupun mereka saling bantu-membantu.” (al-Isra:88)Al-Quran bukan hanya sebuah kitab, tetapi menjadi petunjuk (hidayah) kepada manusia, memberikan rahmat, syifa (penyembuh kepada penyakit), nur (cahaya yang menerangi), furqan (pembeza di antara hak dan batil), az-zikr (memberi peringatan) dan memberi penjelasan bagi manusia.Ia wajar dibaca dan ditatap lebih kerap, malah diperhalusi dan dikaji bagi mendapatkan sari pati kandungannya untuk manfaat seisi alam.
Pada Ramadan, umat Islam sangat digalakkan membaca al-Quran kerana ganjaran pahala yang berganda. Nabi s.a.w sendiri gemar membaca al-Quran pada Ramadan.Daripada Aisyah r.a katanya: “Rasulullah (saw) memperbanyakkan amalan apabila sampai hari ke-10 terakhir daripada bulan Ramadan, baginda juga membangunkan isterinya agar beribadat (solat sunat, membaca al-Quran, berzikir dan lainnya). Baginda menjauhkan diri daripada bergaul serta bermesra dengan isterinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim) Kitab suci ini amat penting bagi memandu kehidupan manusia. Walaupun manusia dilengkapi akal dan pancaindera yang lima, tetapi manusia tidak dapat memikirkan kebenaran tauhid, perkara ghaib dan hakikat di luar daerah kemampuannya.Imam al-Ghazali menegaskan, sesungguhnya akal itu tidak dapat memberi hukum ke atas sesuatu perkara melainkan perkara itu mempunyai dua sifat, masa dan tempat. Akal akan bertanya ‘bila’ dan ‘di mana’. Selagi dua soalan itu tidak terjawab, akal tidak mengakui kewujudannya.Oleh itu, akal semata-mata dengan capaian yang cukup terbatas tidak dapat menerima kewujudan Allah, tidak mempercayai sifat Allah serta tidak mengakui qada dan qadar kerana akal itu terhad sifatnya dan kewujudan Allah itu tidak bersifat tempat dan masa.Justeru, ada manusia mengambil jalan falsafah mencari tuhan, sehingga mencipta teori sendiri dalam soal ketuhanan, namun pegangan ini tidak sama antara satu sama lain. Di sini sudah nampak manusia memerlukan satu petunjuk yang boleh menunjukkan jalan kepada manusia mengenai hakikat ketuhanan sebenarnya.Petunjuk itu ialah agama Islam sebagai agama benar lagi lurus. Agama Kristian dan Yahudi tidak boleh menjadi petunjuk kepada manusia kerana kedua-duanya diselewengkan penganutnya.
Dalam persoalan ketuhanan, Islam yang unggul dan ajaran Islam datangnya dari al-Quran. Al-Quran yang memberi petunjuk kepada manusia untuk menunjuk jalan kebenaran.“Kitab al-Quran ini, tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Ini sebagaimana ditegaskan pada ayat 2, surah al-Baqarah.)

Petikan
Kehebatan al-Quran
Oleh Idris Musa